keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Kerajaan Banten: Sejarah, Masa Kejayaan, Raja dan Peninggalan

4 min read

Kerajaan Banten – Pada sekitar kala ke 16 berdirilah kerajaan Islam di Tatar Pasundan tepatnya di propinsi Banten Indonesia. Kerajaan Islam tersebut ialah Kerajaan Banten yang hampir selama 3 kala bisa bertahan hingga mencapai kejayaan.

Wilayah kerajaannya mencakup sebelah barat dari pantai Jawa hingga ke Lampung. Kesultanan Demak sangat amat berperan aktif dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa.

Pada masa kejayaan pemerintahan Banten ini datanglah penjajah dari negara Eropa sambil menanamkan imbas buruknya.

Perang antar saudara serta persaingan kekuatan global sering terjadi didalam memperebutkan sejumlah perdagangan dan juga SDM (sumber daya manusia). Selain itu ada rasa ketergantungan akan persenjataan alhasil melemahkan hegemoni kerajaan Banten atas kekuasaan wilayahnya.

Kekuatan politik kerajaan Islam ini akibatnya runtuh sekitar tahun 1813 dengan dihancurkannya Istana Surosowan. Istana ini adalah simbol dari kekuasaan kerajaan Islam Banten di Kota Intan.

Pada masa-masa terakhir pemerintahannya para raja-raja di daerah Banten kedudukannya tidak lebih dari seorang raja bawahan dari pemerintah kolonial Hindia Belanda.

 

Sejarah Kerajaan Banten

 

Source : bandung.kompas.com

 

Sekitar awal kala ke-16 Kerajaan Pajajaran yang beragama Hindu mempunyai bandar-bandar penting menyerupai Sunda Kelapa (Jakarta), Banten dan Cirebon.

Kerajaan Pajajaran ini mengadakan kolaborasi dengan pemerintahan Portugis sehingga Portugis diizinkan untuk mendirikan benteng dan kantor dagang di sini. Seluruh perekonomian di tanah Sunda Kelapa pada ketika itu dikuasai oleh Portugis.

Guna  membendung imbas dari Portugis di wilayah Pajajaran ini Sultan Trenggono dari Kerajaan Demak memberi perintah kepada Fatahilah.

Fatahilah ialah merupakan panglima dalam perang Demak yang diperintahkan untuk menaklukkan bandar-bandar di Pajajaran sekitar tahun 1526. Akhirnya pasukan Fatahilah suksek dalam menguasai Banten serta merebut pelabuhan Sunda Kelapa (Jakarta) pada tanggal 22 Juni 1527.

Sejak ketika itulah nama “Sunda Kelapa” diubah namanya menjadi “Jayakarta” atau “Jakarta” yang artinya kota kemenangan. Maka pada tanggal 22 Juni oleh pemerintah Indonesia ditetapkan menjadi hari jadi kota Jakarta.

Seluruh pantai utara di Jawa Barat akibatnya bisa dikuasai Fatahilah sehingga lambat laun agama Islam tersebar di seluruh Jawa Barat.

Fatahilah kemudian menjadi ulama besar (wali) dengan menggunakan gelar Sunan Gunung Jati di Cirebon. Pada tahun 1552 putra dari Fatahilah yakni Hasanuddin diangkat menjadi penguasa Banten, sedangkan putranya yang lain Pasarean menjadi penguasa di Cirebon.

Fatahilah mendirikan sentra aktivitas keagamaan Islam di Gunung Jati Cirebon hingga akibatnya dia wafat pada tahun 1568.

 

Raja-raja di Kerajaan Banten

Seperti halnya seperti kerajaan-kerajaan lainnya di tanah Jawa, raja-raja yang berkuasa di Kerajaan Banten juga mengalami pergantian yang dilakukan secara turun temurun.

See also  Pengertian Filsafat : Menurut Para Ahli, Cara Mengkaji dan Cabang Ilmunya

Raja-raja yang berkuasa di tanah Banten niscaya mengalami pasang surut sendiri-sendiri. Berikut ini ialah urutan raja-raja yang pernah berkuasa di kerajaan Islam Banten Jawa Barat, yakni:

 

1. Sultan Hasanuddin

 

Source : museumnusantara.com

 

Pada ketika terjadi kudeta di Demak tempat Cirebon dan Banten masing-masing berusaha untuk melepaskan diri dari kekuasaan kerajaan Demak.

Akhirnya  Cirebon dan Banten terlepas dari imbas Demak dan menjadi kerajaan berdaulat. Maka Sultan Hasanuddin akibatnya menjadi raja Banten pertama yang berkuasa selama 18 tahun yaitu 1552-1570 M.

Di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin Kerajaan Banten berhasil menguasai daerah Lampung (Sumatra) sebagai penghasil rempah-rempah terbaik pada waktu itu. Selain itu juga Sultan Hasanuddin berhasil menguasai selat Sunda yang merupakan jalur utama perdagangan.

Dibawah pemerintahan dia pelabuhan Banten berhasil menjadi pelabuhan yang ramai dikunjungi oleh para pedagang dari banyak sekali negara di dunia.

 

2. Maulana Yusuf

Maulana Yusuf ialah merupakan putra Sultan Hasanuddin yang memerintah Banten dari tahun 1570 hingga 1580 M. Sekitar pada tahun 1579 Maulana Yusuf berhasil menaklukkan kerajaan Pajajaran di Pakuan Bogor dan juga menyingkirkan rajanya Prabu Sedah.

Ini menimbulkan rakyat Pajajaran banyak yang mengungsi ke tempat pegunungan dan hingga kini dikenal sebagai orang-orang Baduy di Rangkasbitung Banten.

 

3. Maulana Muhammad

Begitu Sultan Maulana Yusuf wafat putra dia yang berjulukan Maulana Muhammad naik tahta ketika usia 9 tahun. Karena Maulana Muhammad masih begitu muda maka pemerintahan dijalankan oleh Mangkubumi Jayanegara hingga dia cukup umur (1580-1596).

Setelah memerintah selama 16 tahun, Sultan Maulana Muhammad akibatnya meninggal dalam pertempuran di Kesultanan Palembang pada usia ke-97 tahun.

 

4. Pangeran Ratu (Abdul Mufakhir)

Dalam usia 5 bulan Pangeran Ratu akibatnya menjadi sultan Kerajaan Banten ke empat (1596-1651). Sambil menunggu pangeran cukup umur untuk sementara pemerintahan dijalankan Mangkubumi Ranamanggala.

Pada ketika inilah pertama kali bangsa Belanda dengan pimpinan Cornelis De Houtman mendarat di tempat Banten tanggal 22 Juni 1596.

 

5. Sultan Ageng Tirtayasa

Dibawah pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa pada tahun (1651-1682) Kerajaan Banten mengalami masa kejayaan. Sultan Ageng Tirtayasa selalu berusaha memperluas tempat kekuasaannya hingga tahun 1671 M.

Beliau mengangkat putranya menjadi seorang raja pembantu bergelar Sultan Abdul Kahar (Sultan Haji). Namun akibatnya Sultan Ageng Tirtayasa merasa kecewa dengan Sultan Haji dikarenakan telah menjalin kerjasama dengan Belanda.

Perang saudara akibatnya terjadi dan Sultan Haji meminta sumbangan Belanda untuk menyerang Sultan Ageng Tirtayasa. Akhirnya Sultan Ageng Tirtayasa tertangkap serta dipenjara di Batavia sampai wafat tahun 1691 M.

 

Peninggalan Kerajaan Banten

Selama pemerintahan berlangsung kurang lebih 3 kala lamanya kerajaan Islam di Banten ini telah meninggalkan beberapa bukti kejayaannya.

Bukti-bukti peninggalan kerajaan inilah yang bisa menceritakan jika di pulau Jawa pernah ada kerajaan Islam terbesar. Beberapa peninggalan kerajaan yang telah menerangkan kejayaan pada masa itu antara lain ialah :

 

See also  Teks Eksplanasi: Pengertian, Tujuan, Struktur, Ciri-ciri & Contohnya

1. Masjid Agung Banten

Bangunan Masjid ini adalah bukti peninggalan dari Kerajaan Banten sebagai one and only kerajaan Islam di Indonesia.

Masjid tersebut dibangun pada tahun 1652 hingga sampai sekarang ini masih berdiri kokoh dan terletak di desa Banten Lama, kecamatan Kasemen. Ini merupakan satu dari 10 masjid tertua yang ada di Indonesia hingga kini ini.

 

2. Danau Tasikardi

Letaknya di sekitar Istana Kaibon dan merupakan danau buatan yang dibentuk sekitar tahun 1570 – 1580 pada masa Sultan Maulana Yusuf.

Luas danau Tasikardi dulu sekitar 5 hektar dan dilapisi dengan kerikil bata dan ubin. Fungsi dari danau ini dulu sebagai sumber mata air keluarga kerajaan dan susukan irigasi sawah di sekitar Banten.

 

3. Vihara Avalokitesvara

Vihara ini sebagai salah satu bukti jika pada jaman kerajaan Islam toleransi antar umat beragama tetap terjaga dengan baik. Tempat ibadah bagi umat Budha tersebut hingga ketika ini masih terawat dan berdiri kokoh.

Keunikan dari Vihara Avalokitesvara ialah pada dindingnya terdapat relief yang menceritakan legenda siluman ular putih.

 

4. Meriam Ki Amuk

Di dalam benteng Speelwijk terdapat beberapa jenis meriam dan salah satu meriam yang paling besar ukurannya ialah meriam Ki Amuk. Meriam ini mempunyai daya tembak yang sangat jauh dengan daya ledakan luar biasa.

Ini ialah hasil rampasan dari raja Banten terhadap Belanda pada masa perang.

 

5. Istana Dan Benteng

Peninggalan sejarah pada Kerajaan Banten juga ada yang berupa Istana dan juga Benteng. Istana dan benteng tersebut yaitu:

    • Istana Keraton Kaibon. Dulunya istana ini difungsikan sebagai tempat tinggalnya Bunda Ratu Aisyah (ibunya Sultan Syaifudin).
    • Istana Keraton Surosowan. Istana ini merupakan tempat tinggal sekaligus sebagai sentra pemerintahan Sultan Banten.
    • Benteng Speelwijk. Benteng ini dibangun sebagai bentuk poros pertahanan laut kekuasaan raja di masa lalu. Benteng Speelwijk ini dibangun pada tahun 1585 dengan ketinggian 3 meter serta mempunyai mercusuar.

Begitu banyaknya peninggalan sejarah kerajaan Islam di Banten ini yang harus dan wajib kita sama-sama lestarikan. Ini semua menerangkan jika raja-raja Banten pada masa pemerintahannya.

Benar-benar sangat tangguh serta memperhatikan dari kesejahteraan rakyatnya. Selain itu juga sebagai bukti jika raja-raja tanah Jawa dan rakyat pada masa itu sudah memerangi penjajah.

 

Penutup

Sebagai kerajaan Islam terbesar di Indonesia Kerajaan Banten semenjak dulu sudah menerangkan sebagai negara anti penjajah.

Mereka bersatu padu dengan rakyat berusaha mengusir penjajah dari tanah air Indonesia Raya tercinta ini. Meskipun banyak yang harus mereka korbankan dan juga mereka berikan untuk negara kesatuan tercinta ini. Namun mereka tetap semangat pantang mengalah hingga bisa mengusir penjajah dari negeri ini.

Kita sebagai pewaris tunggal negara tercinta Indonesia harusnya lebih bisa menjaga keutuhan dan kesatuan semoga tidak gampang untuk dipecah belah. Banyak hal yang bisa kita pola dan kita peroleh dari masa-masa kejayaan raja-raja tanah Jawa di Indonesia ini.

 

Avatar
keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *