keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Kerajaan Demak: Sejarah, Raja-raja, Masa Kejayaan dan Keruntuhannya

4 min read

Kerajaan Demak – Membahas mengenai Kerajaan Demak tak bisa lepas dari peranan kerajaan ini dalam berbagi agama Islam di Pulau Jawa. Kekuasaan Demak di tanah Jawa tak berlangsung lama, yakni kisaran lebih kurang hanya selama lebih kurang 79 tahun dengan lima orang raja memerintah.

Penyebaran fatwa Islam di Pulau Jawa yang diprakarsai pada masa kekuasaan Demak dilakukan oleh sembilan orang wali yang lebih dikenal dengan sebutan Wali Sanga. Para wali dikirimkan ke daerah-daerah yang masih berada dalam sisa-sisa kekuasaan kerajaan Hindu dan juga Budha di daerah tanah Jawa. Tugas mereka ialah mengislamkan Pulau Jawa dan mengakibatkan kawasan tersebut masuk ke dalam wilayah Demak.

Kerajaan yang bangun oleh seorang Raden Patah ini mengalami puncak kejayaan di bawah oleh kepemimpinan Sultan Trenggana, putra Raden Patah, serta berakhir pada masa kekuasaan seorang Arya Penangsang. Masa kejayaan ditandai dengan perebutan Sunda Kelapa dari tangan Portugis, sedangkan masa keterpurukan dimulai dengan adanya kudeta dan pemberontakan.

 

Sejarah Berdirinya Kerajaan Demak

 

Kerajaan Demak: Sejarah, Raja-raja, Masa Kejayaan dan Keruntuhannya
Source : jogja.suara.com

 

Berlokasi di daerah pesisir utara Pulau Jawa, Demak ialah merupakan sebuah kadipaten dari Kerajaan Majapahit. Akibat adanya kemunduran didalam politik Majapahit, terjadi kekacauan didalam negeri yang disebabkan oleh perebutan kekuasaan pada saat itu. Karena lokasinya yang strategis sebagai jalur pelayaran, Demak tidak terpengaruh akan kekacauan ini dan menjadi kawasan yang mandiri.

alam sejarah Jawa, banyak disebutkan bahwa Kerajaan Demak yaitu pengganti eksklusif dari Kerajaan Majapahit. Hal ini dikarenakan banyak yang meyakini bahwa pendiri kerajaan yaitu putra raja Majapahit yang terakhir. Kepercayaan inilah yang memudahkan berdirinya Kerajaan Demak sebagai sebuah kerajaan.

 

 

Raja-Raja Kerajaan Demak

Dalam masanya, sebuah Kerajaan tentu mengalami yang namanya pergantian raja. Begitu pun juga dengan Kerajaan Islam yang pertama di Pulau Jawa ini. Tercatat ada lima orang yang memimpin Demak sebagai seorang raja yakni:

 

1. Raden Patah

 

Ilustrasi imajiner Raden Patah | Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Raden_Patah

 

Menurut banyak sekali sumber, Raden Patah disebut-sebut sebagai keturunan terakhir dari raja Majapahit berjulukan Brawijaya bersama dengan seorang putri dari Campa.

Gelar yang diberikan kepada Raden Patah adalah Senapati Jumbang Ngabdurrahman Panembahan Sayidin Palembang Panatagama. Terselip nama Palembang di tengah gelar oleh karena nama kota tersebut ialah kota kelahiran Raden Patah.

Raden Patah memerintah Demak kurang lebih selama 43 tahun. Diawali semenjak berdirinya Demak sebagai sebuah kerajaan pada tahun 1475 Masehi hingga turun tahta pada 1518 Masehi.

See also  Pengertian Budaya: Ciri-ciri, Fungsi, Unsur serta Contohnya

 

2. Pati Unus

 

Source : www.pinhome.id/blog/raja-demak

 

Pati Unus menggantikan ayahnya sebagai raja Demak yang ke-2 serta naik tahta di tahun 1518 Masehi. Nama lain dari Pati Unus yang juga dikenal luas yaitu Pangeran Sabrang Lor. Hal ini disebabkan lantaran keberanian Pati Unus dalam memimpin armada maritim untuk menyerang Portugis yang menduduki Malaka.

Masa kepemimpinan Pati Unus berumur cukup singkat, hanya selama 3 tahun. Tahun 1521 Masehi, sang penyeberang maritim mangkat sehingga tahta kerajaan diserahkan kepada adiknya.

 

3. Sultan Trenggana

Trenggana yaitu putra Raden Patah dan naik tahta menggantikan kakaknya, Pati Unus, pada tahun 1521 Masehi. Setelah menjadi raja, Trenggana dianugerahi gelar sebagai seorang sultan. Sultan Trenggana yaitu raja Demak yang paling besar. Penyebabnya yaitu keberhasilan utusan militer yang dikirimkan dalam merebut Sunda Kelapa dari kekuasaan Portugis.

Selain itu, pasukan Sultan Trenggana juga berhasil mengalahkan kerajaan-kerajaan Hindu dan Budha yang masih ada di tanah Jawa, lalu menjadikannya dalam wilayah kekuasaan Demak.

Penguatan kekuasaan juga dilakukan dengan cara perkawinan seorang putrinya yang dinikahkan kepada Bupati Madura dan juga mengambil Joko Tingkir (putra bupati Pengging) sebagai menantu. Masa pemerintahan raja Demak ketiga ini berakhir ketika Sultan Trenggana terbunuh dalam medan pertempuran Pasuruan pada tahun 1546 Masehi.

 

4. Sunan Prawata

Suksesi pergantian kepemimpinan Demak diwarnai sengketa antara Raden Mukmin dengan Pangeran Surowito. Persengketaan berakhir dengan terbunuhnya Pangeran Surowito selepas pulang dari masjid usai melaksanakan shalat Jumat di tahun 1546 Masehi.

Tampuk kekuasaan jatuh pada Raden Mukmin yang sehabis naik tahta menerima gelar Sunan Prawata. Masa pemerintahannya hanya berlangsung selama satu tahun dan berakhir lantaran dibunuh oleh Arya Penangsang yang membalas dendam atas simpulan hidup ayahnya.

 

5. Arya Penangsang

Setelah membunuh Sunan Prawata, Arya Penangsang menduduki tahta raja dan juga memerintah selama 7 tahun. Masa kepemimpinan Arya Penangsang dipenuhi dengan rasa saling ketidakpercayaan dari pemimpin daerah-daerah kekuasaan Demak. Hingga kesudahannya Arya Penangsang terbunuh pada 1554 Masehi dalam pemberontakan yang dipimpin oleh Adipati Pajang, Joko Tingkir.

 

 

Bukti Masa Kejayaan Kerajaan Demak

Demak sudah menjadi kawasan yang berdikari semenjak masih berada di bawah kekuasaan Majapahit. Kondisi ini berlanjut sampai masa Demak menjadi kerajaan yang merdeka. Banyak hal yang sanggup menjadi bukti masa kejayaan Kerajaan Demak. Beberapa di antaranya yaitu sebagai berikut :

 

1. Daerah Kekuasaan Yang Luas

Pada masa pemerintahan raja Demak yang pertama, wilayah kekuasaan Demak mencakup Banjar, Palembang, Maluku, serta potongan utara Pulau Jawa. Daerah kekuasaan ini bertambah luas di masa kepemimpinan Sultan Trenggana yang berhasil menguasai wilayah bekas Majapahit di Jawa Timur menyerupai Tuban, Madura, Madiun, Surabaya, Pasuruan, Kediri, Malang, dan Blambangan.

See also  Perbedaan DNA dan RNA pada Sel Makhluk Hidup

 

2. Keadaan Ekonomi Yang Mapan

Sebagai salah satu pelabuhan besar di Nusantara, Demak mempunyai peranan penting dalam perdagangan antar pulau di Indonesia. Komoditi perdagangan utama Demak yaitu hasil pertanian, khususnya beras. Selain itu, lilin dan juga madu menjadi komoditas utama dari ekspor Demak.

Dukungan terhadap kegiatan ekonomi ditunjukkan dengan adanya pelabuhan khusus untuk acara perdagangan, yaitu yang terletak di sekitar Bonang, Demak. Sementara untuk acara militer, pelabuhan yang dipakai yaitu yang berlokasi di sekitar Teluk Wetan, Jepara.

 

3. Kehidupan Sosial Budaya Yang Harmonis

Masyarakat Demak hidup dalam aturan fatwa dan aturan Islam, terlebih lantaran kegiatan Wali Sanga didukung oleh kerajaan. Para Wali Sanga mengajarkan Islam dengan metode akulturasi dengan kebudayaan Hindu dan Budha yang sebelumnya dianut, semoga masyarakat merasa tertarik dan mau memeluk Islam.

Tradisi fatwa Wali Sanga yang masih tersisa yaitu Sekaten, yang pertama kali digagas oleh Sunan Kalijaga. Kegiatan ini masih diselenggarakan sampai sekarang ini, terutama di Cirebon, Yogyakarta, dan juga Surakarta di mana kebudayaan keraton masih dilestarikan.

Adapun warisan lain yang masih sanggup dijumpai pada masa kini yaitu Masjid Agung Demak yang sudah ada semenjak masa Kerajaan Demak dulu. Bangunan masjid dipenuhi dengan gesekan kaligrafi. Keunikan lain dari masjid ini yaitu tiangnya yang berasal dari sisa patahan-patahan kayu yang disatukan.

 

 

Runtuhnya Kerajaan Demak

Masa keruntuhan Kerajaan Demak dimulai sepeninggal dari Sultan Trenggana. Adanya perselisihan dalam kudeta dalam keluarga kerajaan, mengakibatkan munculnya pemberontakan-pemberontakan dari daerah-daerah kekuasaan Demak.

Terbunuhnya Pangeran Surowito menjadi penyebab utama pembunuhan terhadap Sunan Prawita (pengganti Sultan Trenggana) dan juga istrinya. Ditambah lagi, sang pembunuh, Arya Penangsang naik tahta menjadi seorang raja dan juga dalam prosesnya para pengikutnya membunuh Pangeran Hadiri, Bupati Jepara. Inilah yang memicu ketidaksenangan dari para adipati lain untuk mengakui Arya Penangsang sebagai seorang raja Demak.

Pemberontakan terakhir yang didukung oleh keluarga kerajaan, dipimpin oleh Joko Tingkir yang ketika itu menjabat sebagai Adipati Pajang. Pemberontakan berhasil dengan terbunuhnya Arya Penangsang oleh anak angkat Joko Tingkir yang berjulukan Sutawijaya. Joko Tingkir lalu memindahkan kekuasaan ke Pajang dan itulah yang menandai berakhirnya masa kekuasaan Kerajaan Demak.

 

 

Penutup

Sejarah mencatat, banyak kerajaan-kerajaan yang berakhir lantaran problem persengketaan dalam istana. Demikianlah pula yang terjadi pada Demak. Tidak adanya pemimpin cakap yang bisa meneruskan apa yang telah dicapai oleh para raja sebelumnya juga menjadi kendala. Pergolakan politik menyerupai itu cenderung memicu munculnya pemberontakan.

Tetapi, dibalik itu semua kebudayaan Islam yang dibangun oelh Demak banyak diwarisi oleh kerajaan-kerajaan Islam Jawa setelahnya. Seperti ritual tradisi gagasan para Wali Sanga untuk membujuk masyarakat semoga memeluk agama Islam diteruskan, bahkan beberapa masih ada hingga sekarang.

Avatar
keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *