keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Kerajaan Kalingga: Sejarah, Peninggalan, Masa Kejayaan & Kehancuran

4 min read

Kerajaan Kalingga: Raja-raja, Kehidupan Politik, dan Peninggalan

Kerajaan Kalingga – Para hebat sejarah memperkirakan jikalau sentra Kerajaan Kalingga (Ho-ling) berada di wilayah Jepara dan Pekalongan. Merupakan salah satu kerajaan tradisional yang bercorak Hindu-Budha yang berkembang di pesisir utara Jawa Tengah sekitar era 16 – 17 M.

Bahasa yang berkembang dan dipakai dalam kehidupan sehari-hari yaitu bahasa Melayu Kuno dan bahasa Sansekerta.

Sebagian besar yang tinggal di wilayah kerajaan ini masyarakatnya ialah beragama Budha dan juga Hindu dan sebagian kecil lainnya menganut kepercayaan leluhur.

Kerajaan Kalingga mencapai puncak keemasan dibawah kepemimpinan seorang ratu yang berjulukan Maharani Shima. Ratu Shima digambarkan sebagai sang pemimpin yang sangat tegas dan juga taat terhadap peraturan kerajaan.

 

Sejarah Kerajaan Kalingga

 

Kerajaan Kalingga: Raja-raja, Kehidupan Politik, dan Peninggalan
Source : https://www.cnnindonesia.com/

 

Menurut sejarah yang berasal catatan lokal masyarakat Jawa Tengah dan juga kronik Tiongkok Ratu Shima memerintah dari tahun 674 hingga tahun 732 masehi.

Keberadaan kerajaan Ho-ling ini untuk pertama kalinya di beritakan oleh seorang pendeta dan sekaligus seorang penjelajah bernama I-Tsing. Selain dari itu keberadaan kerajaan ini juga diceritakan oleh Dinasti Tang di tahun 618 hingga 906 M.

Diceritakan juga jika ibu kota Ho-ling dikelilingi oleh tembok besar yang terbuat dari potongan kayu. Raja Ho-ling sendiri tinggal di sebuah bangunan besar yang bertingkat dengan atap dari daun palem serta singgasana yang terbuat dari gading.

Sebagian besar penduduknya sangat berakal menciptakan minuman keras dengan komoditi yang ditawarkan yaitu emas, perak, kulit penyu, gading gajah dan cula badak.

 

Raja-raja Kerajaan Kalingga

  • Prabhu Wasumurti (594-605 Masehi)
  • Prabhu Wasugeni (605-632 Masehi)
  • Prabhu Wasudewa (632-652 Masehi)
  • Prabhu Wasukawi (652 Masehi)
  • Prabhu Kirathasingha (632-648 Masehi)
  • Prabhu Kartikeyasingha (648-674 Masehi)
  • Ratu Shima (674-695 Masehi)

 

Peninggalan Kerajaan Kalingga

Sebagai salah satu kerajaan yang sebagian besar penduduknya memeluk pedoman Hindu-Budha tentu mempunyai peninggalan-peninggalan sejarah tersendiri. Apalagi disebutkan jikalau semenjak era ke-7 Kerajaan Ho-ling dibawah pemerintahan Ratu Shima sudah menjadi salah satu sentra kebudayaan Budha Hinayana. Bentuk peninggalan bersejarah Kerajaan Ho-ling yang populer tersebut antara lain berupa 2 prasasti, candi dan situs bersejarah.

 

A. Prasasti

Terdapat dua prasasti yang ditemukan di suatu daerah sekitar pesisir pantai utara pulau Jawa. Kedua prasasti ini ialah sebagai peninggalan sejarah Kerajaan Kalingga yang dulunya dipimpin oleh seorang ratu yang bernama Ratu Shima. Prasasti-prasasti ini ialah sebagai bukti sejarah kalau Kerajaan Ho-ling dulunya memang benar-benar ada yakni:

See also  Kerajaan Majapahit: Sejarah Berdiri, Raja-Raja, Masa Kejayaan dan Peninggalan

 

Prasasti Tukmas

Prasasti Tukmas ini ditemukan pertama kalinya di lereng sebelah barat Gunung Merapi lebih tepatnya di sebuah dusun bernama Dusun Dakawu, Desa Lebak, Kecamatan Grabak, Magelang Jawa Tengah. Peninggalan Kerajaan Kalingga yang berupa prasasti ini bertuliskan dengan bahasa Sansekerta dan menggunakan huruf Pallawa. Bentuk aksaranya lebih muda jikalau dibandingkan dengan huruf masa Purnawarman.

Prasasti ini dipahatkan pada sebuah kerikil alam besar bersahabat sebuah mata air sekitar era ke-7 M. Dalam prasasti ada gambar kendi, trisula, kapak, cakra, kelangsangka, dan bunga teratai yang melambangkan relasi antara insan dengan dewa-dewa Hindu. Prasasti Tukmas menyebutkan mengenai mata air yang jernih dan higienis serta sungai yang mengalir sama dengan Sungai Gangga di India.

 

Prasasti Sojomerto

Tempat ditemukannya prasasti ini yaitu di desa Sojomerto, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Jenis prasasti ini menggunakan huruf Kawi dan bahasa Melayu Kuno serta berasal dari era ke-7 M. Bahan prasasti ini terbuat dari kerikil andesit dengan tinggi 78 cm, panjang 43 cm, dan tebal 7 cm. Dengan goresan pena terdiri dari 11 baris dan sebagian barisnya sudah rusak terkikis usia.

Prasasti Sojomerto bersifat keagamaan Siwais yang didalamnya memuat semua keluarga dari tokoh utama yaitu Dapunta. Seperti ayahnya yang berjulukan Santanu, ibunya yang berjulukan Bhadrawati serta istrinya yang berjulukan Sampula. Tokoh utama Dapunta Selendra ialah cikal bakal dari raja-raja keturunan Wangsa Syailendra yang pernah berkuasa di Kerajaan Mataram Hindu.

Dengan adanya temuan 2 prasasti tersebut menjadi bukti jikalau di tempat pantai utara Jawa Tengah dahulu pernah ada Kerajaan Kalingga. Sebuah kerajaan besar yang bercorak Hindu Siwais dengan Ratu Shima sebagai penguasanya. Seorang ratu yang disiplin dan juga memegang teguh semua peraturan yang berlaku di dalam Kerajaan Ho-ling.

 

B. Candi Dan Situs Bersejarah

Selain 2 prasasti tersebut diatas bentuk lain dari peninggalan Kerajaan Kalingga yaitu berupa candi dan situs bersejarah. Candi dan juga situs bersejarah ini sama-sama ditemukan di seputar daerah puncak Gunung Muria. Semua terletak secara berdekatan serta tersebar dari bawah sampai hampir ke puncak gunung.

 

    • Candi Angin, Bangunan Candi ini ditemukan di sekitaran Desa Tempur, Kec. Keling, Kab. Jepara, Provensi Jawa Tengah.
    • Candi Bubrah, Sama menyerupai Candi Angin ternyata Candi Bubrah ini juga ditemukan di Desa Tempur, Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah.
    • Situs Puncak Sanga Likur. Situs bersejarah peninggalan Kerajaan Kalingga ini berada di Puncak Rahtawu (Gunung Muria) bersahabat Kecamatan Keling. Di tempat pegunungan inilah terdapat 4 arca kerikil yakni arca Batara Guru, Togog, Wisnu dan Narada. Sampai kini belum ada yang tahu bagaimana caranya mengangkut arca-arca tersebut hingga ke puncak mengingat medan yang sangat sulit.
See also  80 Kata Kata Mutiara Islami Penuh Makna & Menyejukkan

 

Masih disekitar puncak tersebut pada tahun 1990 Balai Arkeologi Yogyakarta juga menemukan sebuah Prasasti Rahtawun. Selain 4 arca tersebut di tempat itu terdapat juga 6 tempat pemujaan yang tersebar dari arah bawah hingga puncak gunung. Keenam tempat pemujaan tersebut diberi nama tokoh pewayangan menyerupai Abiyoso, Bambang Sakri, Jonggring Saloko, Pandu Dewonoto, Sekutrem dan Kamunoyoso.

 

Masa Kejayaan Kerajaan Kalingga

Kerajaan Ho-ling mengalami masa keemasan pada ketika kepemimpinan Ratu Shima yang populer sangat disiplin. Hal ini menciptakan kerajaan-kerajaan lain merasa hormat, segan, kagum sekaligus ingin tau dengan kepemimpinan beliau. Pada saat ini juga perkembangan segala macam kebudayaan semakin maju dan berkembang pesat. Dan juga dengan agama Budha yang berkembang secara rukun dan juga sangat harmonis.

Keadaan ini menciptakan wilayah sekitar kerajaan Ratu Shima sering disebut Di Hyang yang artinya tempat bersatunya dua kepercayaan Budha dan Hindu. Dalam hal bercocok tanam Ratu Shima mengadopsi suatu sistem pertanian kerajaan abang mertuanya yang diberi nama subak. Kebudayaan gres inilah yang melahirkan istilah Tanibhala yaitu masyarakat dengan mata pencaharian bercocok tanam (bertani).

 

Masa Kehancuran Kerajaan Kalingga

Seperti halnya dengan kerajaan-kerajaan lainnya yang ada di daerah Jawa Kerajaan Ho-ling ini juga mengalami kemunduran. Hal ini akhir dari persaingan dagang yang terjadi dengan Kerajaan Sriwijaya. Kerajaan Sriwijaya ingin menguasai seluruh jaringan perdagangan di daerah pesisir pantai utara Jawa.

Kerajaan Ho-ling atau Kalingga mengalami kemunduran akhir dari serangan Sriwijaya yang telah menguasai perdagangan. Serangan inilah yang menjadikan pemerintahan Kijen pindah ke Jawa bab timur sekitar tahun 742 – 755 M. Ini bersamaan dengan Melayu dan Tarumanegara yang sama-sama telah ditaklukkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Yang mana ketiga  kerajaan tersebut merupakan tentangan besar lengan berkuasa jaringan perdagangan Kerajaan Sriwijaya – Budha.

 

Kerajaan Kalingga: Raja-raja, Kehidupan Politik, dan Peninggalan
Source : https://id.wikipedia.org/wiki/Kerajaan_Kalingga

 

Penutup

Sebagai sebuah kerajaan yang bercorak Hindu di Jawa Tengah kerajaan Ho-ling ini mempunyai pertalian yang erat dengan Kerajaan Galuh. Dibawah kepemimpinan Ratu Shima yang sangat disiplin dan juga menjunjung tinggi peraturan kerajaan Hindu ini yang mencapai puncak kejayaan. Hal ini menciptakan kerajaan-kerajaan lain di sekitar Kalingga menaruh rasa hormat dan segan terhadap sang ratu.

Kehidupan masyarakat Kalingga selama pemerintahan Ratu Shima juga sangat makmur dan juga bahagia. Ini dikarenakan sang ratu sangat memperhatikan dari perkembangan ekonomi rakyatnya. Sebagai bukti konkret Ratu Shima selalu berusaha membuatkan sistem irigasi dan pertanian bagi rakyat Kalingga. Suatu kepemimpinan yang patut untuk ditiru dan dijadikan suri tauladan bagi seluruh kerajaan-kerajaan yang ada di tanah Jawa.

Avatar
keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *