Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Teks Puisi “Aku” Karya Chairil Anwar dan Maknanya

4 min read

Puisi Aku

Puisi Aku – Tahukah kalian bahwa Chairil Anwar yakni seorang sastrawan kenamaan Indonesia yang namanya sudah sering kali disebut.

Karya-karyanya banyak dikutip dan dipentaskan ulang oleh para seniman lain hingga sekarang.

Bahkan karyanya juga banyak dicantumkan dalam buku teks pelajaran Bahasa Indonesia di sekolah-sekolah dan yang paling populer yakni puisi Aku.

 

Biografi Singkat Chairil Anwar

 

Lahir di Medan pada 26 Juli 1922, Chairil Anwar merupakan salah satu pencetus Angkatan ’45 sekaligus puisi modern Indonesia. Karya puisinya yang diketahui berjumlah lebih kurang ada sejumlah 70 karya dari 96 karya sastra yang telah dituliskan.

Dilahirkan dan dibesarkan di Medan, Chairil Anwar berkenalan dengan dunia sastra sehabis kepindahannya ke Batavia dengan sang ibu ketika usianya menginjak 19 tahun. Puisi pertamanya dipublikasikan 2 tahun sehabis kepindahannya, yaitu pada 1942. Tema yang sering diusung dalam tulisan-tulisannya yakni duduk kasus pemberontakan, kematian, individualisme, eksistenalisme, hingga multi-interpretasi.

Chairil sudah mempunyai tekat untuk menjadi seorang seniman semenjak ia berusia 15 tahun dan putus sekolah pada usia 18 tahun. Meskipun demikian, selain Bahasa Indonesia, diketahui ia menguasai tiga bahasa gila yaitu Inggris, Belanda, dan Jerman.

Waktunya banyak dihabiskan untuk membaca karya para pengarang kenamaan dunia pada masa itu, menyerupai Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik Marsman, J. Slaurhoff, serta Edgar du Perron. Nama-nama besar tersebut turut mempengaruhi gaya penulisan Chairil yang secara tidak eksklusif juga mempengaruhi arah perkembangan kesusastraan Indonesia.

Chairil Anwar meninggal pada usia yang masih muda, 26 tahun, tepatnya pada 28 April 1949 di Jakarta. Hari kematiannya ini selalu diperingati sebagai Hari Chairil Anwar oleh pengagumnya hingga sekarang.

 

 

Mendalami Puisi Aku Karya Chairil Anwar

 

Hampir semua penduduk Indonesia yang mengenyam pendidikan setidaknya hingga kursi Sekolah Menengah Pertama niscaya pernah mendengar atau membaca puisi Aku.

Puisi ini ditulis oleh Chairil Anwar pada 1943 dan pertama kali dibacakan di Pusat Kebudayaan Jakarta bulan Juli pada tahun yang sama.

Puisi Aku pernah dicetak di Pemandangan dengan judulnya diubah menjadi Semangat untuk menghindari sensor dari Pemerintahan Jepang yang waktu itu menduduki Indonesia.

Selain judul, ada bab dalam puisi juga diubah lantaran alasan yang sama.

Pilihan kata Chairil Anwar dinilai radikal dan rawan terkena sensor sehingga perlu diganti dengan kata yang lebih lunak.

Bagian tersebut yakni Ku mau tak seorang kan merayu diubah menjadi Ku tahu tak seorang kan merayu, kata mau diganti dengan tahu.

Berikut ini yakni puisi Aku karya Chairil Anwar:

 

~~~~~~~~

Aku

 

Kalau hingga waktuku

‘Ku  mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini hewan jalang

Dari kumpulan yang terbuang

                Biar peluru menembus kulitku

                Aku tetap meradang menerjang

Luka dan sanggup kubawa berlari

Berlari

                Hingga hilang pedih peri

Dan saya akan lebih tidak peduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi!

 

 

~~~~~~~~

 

1. Parafrase

Parafrase yakni penyampaian puisi dalam bahasa yang sama dengan gaya goresan pena yang berbeda tanpa mengubah makna yang ada. Berikut yakni parafrase puisi Aku ke dalam bentuk prosa:

Suatu ketika saya niscaya harus pergi. ketika saatnya saya untuk pergi itu tiba, saya tak ingin ada yang merayuku untuk tetap tinggal. Meskipun itu kamu yang merayu, saya akan tetap pergi.

Aku tak membutuhkan tangisan dan air mata darimu untuk mengantar kepergianku, jadi jangan menangis.

Menurut rezim ketika ini, saya ini merupakan hewan jalang. Aku menentang segala hukum dan belenggu yang dipaksakan kepada rakyat untuk dikenakan. Oleh alasannya yakni itu saya ini yakni bab dari kumpulan kaum yang terbuang, dikucilkan. Karyaku tidak dianggap lantaran saya enggan tunduk pada keinginan penguasa.

Meskipun hujan peluru menyambut, saya akan tak akan pernah mengalah dan berhenti berjuang melalui tulisanku. Aku akan tetap berlari menerjang dengan kobaran semangat yang terus meradang.

Walau tubuhku penuh luka dan racun serta bisa, saya akan terus berlari. Meski saya harus mati, saya tak akan menghentikan lariku.

Sampai saya tak sanggup mencicipi apa pun lagi. Hilang sudah semua pedih dan perih yang kurasa.

Aku tidak peduli dengan semua yang sedang terjadi, tidak peduli dengan bagaimana orang lain memandang dan menilaiku. Meski tubuhku sudah tidak ada lagi di dunia ini, tapi namaku akan tetap hidup hingga seribu tahun lagi. Karyaku akan terus dikenang dan dikenal melebihi zamanku.

Puisi Aku menggambarkan wacana keyakinan dan semangat Chairil Anwar dalam melahirkan karya-karya tulisannya. Ia dikenal vokal dan sering melanggar hukum yang telah dibuat. Diketahui bahwa tulisannya sering menerima penolakan lantaran pemilihan bahasa yang digunakannya bertentangan dengan penguasa pada masa itu. Namun, ia tidak goyah dengan keyakinannya dan tetap menulis sesuai dengan keyakinannya.

Dan ia meyakini bahwa masa di mana orang akan mendapatkan karya tulisannya akan tiba. Dan harapannya untuk terus hidup (dikenang) pun telah terbukti. Dengan namanya masuk dalam jajaran sastrawan kenamaan yang membawa masuk puisi modern ke Indonesia. Ia tidak membutuhkan waktu hingga seribu tahun untuk hal itu sanggup terjadi.

 

 

2. Rima dan Irama

Dalam puisi Aku, Chairil Anwar memikirkan wacana rima dan irama yang akan dihasilkan. Hal tersebut sanggup dilihat terang dalam keseluruhan tubuh puisi. Misalnya pada bait pertama yang seluruhnya mempunyai sajak akhiran yang sama. Kemudian pada bab bait yang paling populer ‘Aku ini hewan jalang; Dari kumpulan yang terbuang’, mempunyai akhiran dengau (ng) semakin menandakan bahwa pemilihan setiap kata memikirkan bagaimana nanti puisi ini akan dilafalkan.

Selain itu, dipakai juga kata-kata yang mempunyai struktur yang mirip, ‘pedih dan peri’, sama-sama berawalan pe dan mempunyai vokal i. Puisi ini juga ditulis dengan memakai aliterasi (pengulangan suara konsonan) pada ‘Luka dan sanggup kubawa berlari,’ yaitu penggunaan konsonan b pada bisa, bawa, dan berlari.

 

 

3. Ciri Khas Tulisan Chairil Anwar

Puisi-puisi karya Chairil Anwar mempunyai ciri khas yang terdapat pada hampir semua tulisannya. Ciri tersebut yakni penghilangan suara pada kata-kata yang telah dikenal luas dan orang tidak akan salah menafsirkan maksudnya. Misalnya dalam puisi saya ini, terjadi pemenggalan pada kata aku dan akan menghilangkan suara ‘a’ sehingga menjadi ‘Ku dan ‘kan.

Pemenggalan kata ini dipelopori oleh Chairil Anwar pada masa itu, dan kini banyak sastrawan yang mengikuti jejaknya menghilangkan suara pada kata-kata yang sudah umum.

 

4. Pesan dalam Puisi Aku

Karya sastra, termasuk puisi, yakni karya yang sanggup melintasi masa. Artinya tidak hanya untuk masa dibuatnya saja, namun juga untuk masa-masa yang mendatang. Sebagai pencerita dari kondisi suatu masa kepada generasi penerus.

Puisi Aku ditulis pada masa penjajahan Jepang. Isinya merepresentasikan mengenai keinginan untuk berjuang dan menolak penjajahan. Menolak aturan-aturan yang dibentuk untuk mengekang rakyat Indonesia. Banyak karyanya yang ditolak oleh penerbit yang menganggap tulisannya tidak mencerminkan visi Jepang untuk Asia Timur Raya.

Melalui Aku, Chairil Anwar seolah ingin memberikan bahwa dirinya rela untuk menjadi berbeda dan dipandang bersalah (aku ini hewan jalang; Dari kumpulan yang terbuang), tak peduli pada konsekuensi yang nantinya harus ditanggung (Biar peluru menembus kulitku; Aku tetap meradang menerjang; Luka dan sanggup kubawa berlari; Berlari; Hingga hilang pedih peri). Memberikan pesan untuk terus berjuang melawan penjajah walaupun harus dibayar nyawa.

Dan melalui puisi ini, Chairil Anwar juga memberikan keyakinannya. Bahwa akan tiba saatnya nanti bahwa karyanya tidak akan lagi dipandang salah.

Usia singkat Chairil Anwar dalam dunia kesusastraan Indonesia tak lantas menciptakan dirinya kecil. Justru dalam waktu sesingkat itu, ia berhasil mempelopori perkembangan puisi modern di Indonesia. Puisi-puisi yang ditulis pada masa itu cenderung mempunyai isi pemberontakan terhadap penjajahan dan harapan-harapan untuk menjadi rakyat yang bebas dari sebuah negara yang merdeka.

 

 

Demikian halnya dengan puisi Aku, yang seluruhnya menyiratkan akan keengganan untuk tunduk pada hukum penjajah. Meski harus menjadi orang buangan, dengan karyanya yang sering ditolak, namun tak ada kata menyerah. Ancaman eksekusi hingga nyawa menjadi taruhan pun tak dipersoalkan.

Avatar
Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas