keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

30 Contoh Puisi Islami yang Menyentuh Hati dan Penuh Makna

11 min read

puisi islami

Puisi islami merupakan sastra Islami. Perkembangan dan histori Sastra islam tidak terlepas dari perkembangan sastra Arab. Puisi islami dalam peradaban Islam mempunyai peranan penting. Sebelum era ke 20 kesusteraan Arab di dominasi oleh Puisi.

Tema-tema dalam puisi pada zaman ini berisi perihal puji-pujian atau sanjungan terhadap orang tertentu, keagamaan. Selain itu puisi islami sangat banyak dibaca di banyak sekali kalangan, disebabkan lantaran puisi islami bisa di konsumsi semua usia.

Puisi islami untuk diri sendiri, remaja dan Dewasa akan dibahas mendalam dalam pembahasan kali ini. Puisi islami untuk diri sendiri, Remaja dan cukup umur yaitu puisi yang berisi pesan pesan kebaikan untuk dijadikan pengingat dan pedoman untuk sanggup dilakukan perbaikan dan semangat dalam meningkatkan ibadah.

Sebagian besar puisi islami itu bertujuan semoga selalu mengingat Tuhan yang Maha Esa:

 

Puisi Islami Untuk Diri Sendiri

Contoh Puisi islami ini yaitu puisi untuk diri sendiri.

Sebagai penilaian diri akan segala hal, puisi ini berisikan perihal bagaimana kepasrahan diri dalam memohon keampunan kepada sang pencipta.

adapun judul dengan tema islami untuk diri sendiri kali ini dengan judul Memohon keampunan, Bercermin pada diri, Muhasabah diri, dan renungan diri.

Adapun tumpuan puisi untuk diri sendiri sebagaimana dibawah ini:

 

1. Memohon Keampunan

Ya Robbi…..

Dalam Sujud akhirku Hamba memohon ampunkanlah segala dosa hamba

Bimbinglah hati hamba ke dalam lingkup kasih sayangMu ya Robbi

Ya allah Pencipta segala alam semesta beserta isinya

Tiada kekuatan yang patut disembah

Ya Allah…….

Jika hari yang telah engkau tentukan telah tiba

Ambillah hamba dengan segala kasih sayang ya allah

Tak bisa jiwa ini menahan siksamu ya Robbi…

Lindungi diri hamba ini dari siksa api neraka yang abadi

Kemuliaan kalimah MU Membawa pesan illahi

Panji Panji tauhid yang mengibarkan semangat

Mencintai Robbi ku Mencintai Rasulku

Ingin saya berada di masa masa itu

Dimasa Nabi Allah berjuang untuk membawa dakwah

Membawa kebenaran Membawa kebaikan

Dan membawa penerangan

 

2. Muhasabah Diri

Jiwa-jiwa yang tenang

Cenderungkanlah hatiku terpaut padaMU ya Allah

Telah termaktub dalam kitabmu

Manusia akan tergolong tergolong

Bersuku dan berbangsa bangsa

Ya Robbi jauhkanlah diri ini dari orang orang munafik

Orang orang penghamba syaitan

Gaya hidup orang orang yahudi

Gaya hidup orang orang kapital

Mubazir ….Riba….Merampok….Membunuh…

Ya Allah jagakan selalu diri ini ya allah

Berikanlah kesabaran bagi hampa akan orang orang disekitar hamba

Berikan selalu hidayahmu semoga hamba

Satukanlah hamba pada orang orang yang beriman

Orang orang yang selalu bersyukur PadaMU

 

3. Bercermin Pada Diri

Janganlah engkau sombong ketika engkau kaya

Jangan merasa bahwa engkau lebih baik dari yang lain

Jangan bentak para peminta

Dan jangan bernafsu pada ibu dan ayahmu

Bercerminlah pada diri mu

Siapa dirimu ? Apa yang kamu lakukan selama di dunia

Jangan sombong dan congkak

Sesungguhnya tuhan menghukummu

Dengan kedudukan dan kekayaanmu

Tapi ingatlah akan tiba saatnya

Semua hilang seketika

Dan ketika itu waktu telah tiba

Tiada waktu untuk menyadari

Bahwa semua fartamogana

Sadarlah diri

Sebelum kain putih membalutmu

Orang orang memandikan jenazahmu

Sifat indivisualistis tidak akan ada gunanya

Sadarlah sadar takutlah ketika waktu itu tiba.

Aku malu ….Setiap kali saya melihat usaha nya

Aku cemburu mengapa hanya mereka

Mengapa bukan saya Pertumpahan darah yang mewarnai bumi anbia

Menggugah mujahid mujahidah

Ntah dari mana mereka datang

Kulihat ada sayap yang membawa tubuhnya melayang ke angkasa

Senyum  dipenghujung perjuangannya

Seperti kilat dan cahaya infinit yang tidak bisa dilihat

Aku malu

Aku menangis

Perjuangan nya yaitu akidahnya

Akidah dengan penawar surga

Surga yang menyerbak kedaluwarsa dan ketenangan jiwa….

 

4. Renungan Hidup

Dalam sajadah lusuh itu

Raga luluh lantah

Terkenang sudah yang kemudian itu

Ketika lupa komitmen akan dihitung kelak

Dalam sajadah lusuh itu

Teriakan tak lagi terdengar

Mata sayu tak bisa melihat

Telinga terasa kehilangan pendengarannya

Ya allah

Ijinkan diri ini bersimpuh

Di sajadah panjang nan lusuh

Hamba seraya meminta dan meminta

Ampunkanlah segala dosa

Dalam sajadah lusuh

Renungan hidup saya torehkan

Di dinding dinding hatiku

Gemetar hati ini

Lemah segalanya

Membayangkan betapa celakanya diri

Tak bisa merenungi diri

Merenungi hidup

Wahai hati hati yang kosong

Kembali lah kepada cahaNYA

Bermunajatlah

Isi kekosongan itu degan wudhu-wudhu mu

Gemercik lantunan firman Nya Membelai lembut jiwa

Tenanglah…tenanglah Berlari lah kejar cahaya itu

Renunghan hidup Di sajadah lusuh itu

 

Puisi Islami Untuk Para Remaja

Remaja yaitu usia potensial untuk mendapatkan informasi dan mempunyai daya nalar yang masih maksimal.

Puisi islami untuk remaja lebih kepada makna memanfaatkan usia dan waktu sebaik mungkin dan juga biasanya puisi islami khusus untuk remaja menyuruh kepada berperilaku akhlakul karimah dan positif.

Puisi islami untuk diri sendiri, remaja dan cukup umur tujuan dan arahnya hampir sama tetapi pengungkapannya diadaptasi usianya.

Adapun tumpuan contoh puisi untuk remaja kali ini degan judul moralitas Generasi Baru, Masa Emas, Mencintai rasul, dan Harga Diri Wanita

 

puisi islami
source : freepik.com/author/stories

 

1. Moralitas Generasi Baru

Jarum jarum neraka Satu persatu anak manusia

Dekadensi kehidupan Ronrongan sesat yang terus merayu anak manusia

Melumpuhkan budi budi Dan kekosongan ruhani

Membuat budi kancil menguasai hati dan pikirannya Bahwa semua fartamogana

Sadarlah diri

Sebelum kain putih membalutmu

Orang orang memandikan jenazahmu

Sifat indivisualistis tidak akan ada gunanya

Sadarlah sadar takutlah ketika waktu itu tiba.

Hai anak muda

Jangan siakan usia beliamu dengan rasa manis permen karet yang sesaat

Raihlah prestasi

Sayangilah orang tuamu dan ukirlah kebanggannya

Janganlah engkau buta dengan ada yang ada disekelilingmu

Pilihlah jalan yang terang semoga dirimu tidak sesat kemudian.

Fajar menyisir senja lelah pengganti harap

Nalar beraduk rasa Rebah menanti lelap

Hari berganti ahad Bulan berganti tahun

Kutangguhkan semuanya, buat si buah hatiku

Ia pun tersenyum dan kujadikan alat untuk menuntun

Sambil berenang dilautan dangkal ia menarikku

Akupun begitu, sambil berenang dilautan luas penuh gelombang dahsyat, kupacu kemudiku

Akupun begitu Sambil berenang dilautan luas penuh gelombang, kuraih  beruntun

Senyum kecilnya, mimiknya, tulusnya kode bagiku

Terasa akrab kemenangan, bangun dari tidurku

Khayal nan jauh, kugenggam dengan tanganku

Dan jarak Sirna dari pandanganku

 

2. Masa Emas

Ketika waktu emas itu datang

Ingatlah wahai cowok pemudi

Usia emas itu yaitu masa masa pertanggungjawaban

Nikmati dan Manfaatkanlah

Wahai cowok pemudi

Jangan lemah dengan silau dunia

Jangan lalai dengan waktumu

Keindahan itu belum berapa

Wahai cowok Masa emasmu

Tidak akan berulang Tidak akan kembali

Ingat Tuhan telah menawarkan banyak pembelajaran

Memberikan alquran sebagai pedoman

See also  Pengertian Qada dan Qadar : Dalil, Pembagian & Manfaat Mengimaninya

Mengirimkan Rasul sebagai panduan

Dan insiden insiden kejayaan dan kemunduran

Telah terperinci yang diberikan

Telah terperinci yang dihamparkan

Wahai cowok janganlah engkau lemah

Ambillah belahan terindahmu

Tidakhlah engkau menyadari bahwa

Jika engkau hendak mengukur keesanNya maka engkau tidak akan biasa

 

3. Mencintai Rasul

Ya Nabi ….Ya Rasul

Sungguh sirahmu mengajarkan umat dunia

Akan adilnya agama yang engkau bawa ya Rasul

Akan mulianya Ajaran yang engkau sebar

Perilakumu yang penyayang

Menerima siapa saja dan kalangan siapa saja

Perilaku baikmu tidak pernah tercemar

Meski pedang terhunus oleh orang orang kafir

Perang mu membawa persaudaraan

Kebersamaan dan keadilan

Sistem kepemimpinanmu yaitu kepemimpinan yang jujur

Memberikan hak kepada yang berhak

Dan mendorong kewajiban bagi yang berkewajiban

Wahai Nabi

Shalawat ke atas Nabi

Engkau junjunganku

Ijinkan hamba menjadi pengikutnya

Dunia dan akhirat

 

4. Harga Diri Wanita

Wahai ukhti

Keanggunanmu akan senantiasa terpancar

Dari susila dan santun mu

Jaga ibadah dan dzikir hatimu

Untuk menjaga diri dan jiwamu

Jadilah madu yang manis dan mawar berduri

Agar hatimu tak gampang ditawan

Oleh ketampanan dan harta

Ukhti bunyi lembutmu saja sanggup membunuh

Apalagi tubuhmu

Wahai pemudi

Kecantikan wajahmu

Bukan untuk di humbar

Ingatlah bahwa perintah menutup aurat itu

Uhti ingatlah auratmu yaitu harta dan kehormatanmu

Jagalah itu hingga waktu menjemputmu wahai ukhti

Para ukhti ingatlah itu pesan pesan syariah untukmu

Bukan untuk mengekangmu namun untuk menyelamatkanmu

Dari siksa api neraka.

Menanti keajaiban menghampiri

Dengan penuh harap, saya bersimpuh pada Mu

Totalitas doaku ku ucap dari lubuk hati

Maksudnya totalitas doa ku ucap dari lubuk hati

Merindu bukanlah arti sebuah jawab

Menunggu bukanlah jawab yang bertanya

Kelu kesah bukanlah tanggung jawab

Tulus mata kaki meniti takdir Nya

Senyap tiada gembira

Riang bukan berarti ramai

Sedih bukan berarti lara

Asa tak berarti mati

Bom waktu membuka tabir

hijab menuntun takdir,  lelah terasa manis dan Cita mengatur harmonis

 

Contoh Puisi Islami Untuk Orang Dewasa

Puisi islami untuk Orang Dewasa biasanya bertemakan legalisasi dosa, dan lebih nrimo dalam menjalani ibadah. Puisi islami untuk diri sendiri, remaja dan cukup umur kali ini akan memperlihatkan tumpuan puisi islaminya.

Dan puisi islami bagi orang cukup umur ini juga cenderung kepada puisi puisi totalitas ibadah kepada Tuhan yang Maha Esa.

Adapun beberapa tumpuan puisi islami untuk orang Dewasa yaitu sucikan jiwamu di sepertiga Malam, Sakaratul Maut, Di kerikil Besar Jarang Tersandung,  di Kerikil banyak Yang Jatuh  dapat dilihat dibawah ini, fatwa Guru.

 

puisi islami
source : freepik.com/author/freepik

 

1. Sucikan Jiwamu  di Sepertiga Malam

Malam yang hambar Tidak menghentikan waktu

Bagi pencari nirwana Jiwa jiwa insan yang berkarat

Tidak akan cukup dicuci dengan ibadah bumi

Raihlah ibadah langitmu

Ketuklah pintunya di ketika saat itu

Disaat orang orang menghamparkan mimpinya

Disaat insan sedang lupa pada janjinya

Sucikan jiwamu di sepertiga malam

Rasakan jibril yang mencatat amal itu

Ceritalah-ceritalah Tumpahkan semua

Bersihkan semua luka luka itu

Kesombongan itu Wahai jibril

Lihatlah saya Aku rindu padamu

Aku ingin engkau menyapa ku jibril

 

2. Batu Besar Jarang Tersandung, di Kerikil Banyak Yang Jatuh

Masa kecil masa bermanja

Masa remaja masa bahagia

Dan cukup umur masa berubah

Jika tidak tersadar semula

Remaja akan terbawa

Dan cukup umur akan sengsara

Dan senja akan tersiksa

Hati hati

Di kerikil yang besar bisa terlihat

Namun kerikil kerikul sering tak terlihat

Wahai manusia

Tidakkah engkau berpikir

Bagaimana semua dihamparkan

Di terbangkan

Di kembalikan

Dihidupkan

Dimatikan……..

Cari arah cahaya itu

Kelak usia senja tak lagi terpapah

Dosa yang membesar

Tak lagi bisa dipikul

Ketika tiba di simpulan masa

Tak bisa berkata

Tak bisa melihat

Tersesat terseret seret ke dalam jurang yang gelap nan kotor

Di kerikil besar jarang tersandung

Di kerikil kecil banyak tersungkur….

kepadaNYA segala ampunan

ketenangan dan

hanya kepadaNYa Kita kembali….

 

3. Sakaratul Maut

Dingin….. Kaku…..Terpaku

Merintih ibarat kambing yang dikuliti

Darah mendidih Sakitnya ya Allah

Sakitnya ya Allah

Semua terhenti perlahan

Ketika daun di langit tujuh itu gugur ke bumi

Bayangan hitam melesat tajam

Tak kasat mata Ya allah

Sekarangkah waktunya Ya allah

Aku belum siap Ada adap ini ya Allah

Mengapa semua tidak ada yang mendengarku

Lorong apa ini ya allah Kembalikanlah

Sedetik saja ya Allah Izrail memaksamu

Keganasannya ibarat hewan buas merobek daging daging

Ingin merenggut nyawa mu Untuk kembali kepada yang infinit …

Sakaratul maut……………

 

4. Fatwa Guru

Sadarlah engkau wahai diri, Meski emasmu berpasir intan

Dunia hanya sekejap, Semua hanya rayuan

Wahai usia senja Peringatan simpulan sering tak terdengar

Persiapkan diri Untuk menghadapi hari penjemputan itu

Dunia apabila direguk akan semakin haus  Minumlah secukupnya

Agar tidak karam dalam dahaga Sadarlah engkau wahai diri

Jangan selalu menautkan budi Sebab budi tak bisa diganti

Jika terpengaruhi budi Jiwa raga akan tersandra hingga mati

Wahai diri tiada yang abadi

Dimana langit dipijak hendaknya disitu langit di junjung

Dimana kita menumpang hidup Disitulah hendaknya bersyukur

Pandai jiwa sembunyi rasa Riak air tanda tak kuasa

Gemercing angin menyapa dada Bisu bukan tak bersuara

Tiap bait terasapi Tiap kata tercermati

Laku tindak menyesali Guncang pantun tak mencederai

Iringan lagu langkah menyapa, Risih tetangga tak menyapa

Pandai jiwa sembunyi rasa Riak air tanda tak kuasa

Gemercing angin menyapa dada Bisu bukan tak bersuara

Tiap bait terasapi Tiap kata tercermati

Laku tindak menyesali Guncang pantun tak mencederai

Iringan lagu langkah menyapa Risih tetangga tak menyapa

Seutas lara menopang nada Lirik ritme penambah nyawa

Goyah..seyogyanya…tiap jasad mengolah rasa

Karma…gerai masalah…tak kasat mata

Pelipis wajah bukan tanda

Dagu terbelah bukan berarti senang Tak khayal saya ingat sebuah peribahasa

Akhir sulit, mencuat akomodasi niscaya menyapa Gejolak sanubari mengoyak jiwa

Bagai pungguk merindukan bulan  tata hambatan lenyap keindahan itu niscaya ada…

Mengalir disetiap tetes darah  Proses takkan menghianati keberhasilan yang nyata

 

Puisi Islami Tentang Kebesaran Allah

Kebesaran Allah sebagai Tuhan yang disembah umat Islam seringkali menjadi sebuah wangsit untuk menciptakan karya seni, termasuk puisi.

Seperti contoh-contoh puisi di bawah ini yang menceritakan perihal kebesaran Allah :

 

1. Bencana Alam

Kemanakah kami kan pergi

Ketika riuh bumi

Mengguncang ibu pertiwi

Memaksa kaki-kaki kami berlari

Kemanakah kami kan pergi

Saat air bah menghampiri menggulung puing

Memisahkan keluarga kami

Dengarkah kalian

Akan jerit tangis pilu

Menggetar kalbu

Mencari sandaran baru

Dimana kami harus mengadu

Kau lihat tubuh-tubuh itu

Bertumpuk layak batu

Meregang kaku

Telah kering air mata

Bersimpuh di tengah durjana

Menengadah memohon kasih sang Kuasa

Menghapus pedih serta lara

 

2. Sang Maha Pengampun

Berkilah lah kami, para insan lalai.

Bersahut-sahutan berebut dosa

Kau hanya diam

Bergeming

Berserulah kami, para insan hina.

Tak sadar menimbun dosa

Kau hanya diam

Bergeming

Tak ada urat malu yang kami punya,

Hanya ada urat serakah

Saling menjegal

Saling menghina

Tapi Tuhan, apa yang kamu kan perbuat?

Tak ada

Kau tetap bergeming

Menanti

Pada bunyi panggilan kasih-Mu

Terlantun

Pada pengeras suara

Allahu Akbar-Allahu Akbar

Tercenungku pada nestapa

Sehina inikah makhluk-Mu

Yang nyaris selalu lupa

Ataukah justru sengaja?

Tapi kamu tetap bergeming

Allahummaghfirli

Allahummaghfirli

Dan kamu mengampuni kami

 

Puisi Islami Tentang Cobaan

Sebagai orang yang taat beragama, hidup kita tak jarang mengalami cobaan.

Namun justru pada ketika itulah menjadi waktu yang sempurna untuk mendekatkan diri kepada Yang Kuasa.

See also  8 Perbedaan Haji dan Umroh, Syarat Wajib, dan Syarat Sah

Cobaan yang dialami pun sanggup tertuang dalam sebuah karya puisi Islami ibarat berikut ini :

 

1. Ratap

Wahai Insan

Tersadarkah kalian

Akan coba yang Tuhan beri

menguji hati

Kau bermuram

Meratapi nasib

Hilang harta yang kamu cari

Dari pagi hingga nyaris mati

Sudahkah kamu menelusuri sudut hati

Dan bertanya pada diri sendiri

Tuntaskah kamu berserah diri

Pada kuasa sang Ilahi

 

2. Ratap Bersimpuh

Tuhanku, kamu renggut apalagi

kekasih hatiku

mataku terpaku pada ombak

yang menderu. Menyapu semua

hal berharga milikku.

Sebesar inikah amarahmu pada kami

Yang kusadari kerap luput atas kuasamu

Tuhanku, tak sanggup lagi

Aku bertutur. Bahkan merancu pun aku

Tak mampu. Kulihat puing-puing rumahku tak berada di tancapan.

Pondasinya disini atapnya disana

Sebesar inikah tegurmu pada kami

Yang kusadari kerap luput atas Maha-Besar-Mu

Tuhanku, haruskah saya merapal ampun

Untuk mengemis maaf kepada-Mu

Bukankah kamu tahu, kami kerap lupa perihal Maha MematikanMu

Saat kami tersadar, kamu telah mengambil yang kami kasihi.

Namun, pantaskah kalau kami menginginkan

Yang terkasih kembali sebagaimana Engkau yang Maha Mengembalikan

Tuhanku, ditengah redup tenda yang menaungiku,

Sudikah Engkau sekedar menampung air mataku.

 

Puisi Islami Tentang Akhirat

 

Al-Qur’an mengajarkan kita perihal akhirat.

Tujuannya tentu saja supaya kita ingat bahwa ada kehidupan sehabis kematian raga di bumi.

Nah tak jarang juga alam abadi menjadi ide tema yang bagus untuk menciptakan puisi Islami.

Berikut beberapa misalnya :

 

1. Padang Mahsyar

Pada ujung masa

Setelah terompet Isrofil

Dibunyikan

Memenuhi sangkakala

Manusia tergeletak

Yang iman telah pergi

Yang pendosa meregang nyawa

Bumi diputar layak gangsing

Semesta meledak bagai balon

Para malaikat mati

Dunia lebur

Lalu Allah menunjuk

Terbangunlah seluruh makhluk

Digiring pada mahsyar

Ada yang bermuka babi

Atau yang bermuka kera

Tampaklah mana sang taat agama

Dan tampaklah yang suka ingkar padanya

Tak cukup itu

Didekatkan matahari

Pada sejengkal pelipis

Menanti mizan

Satu persatu

 

2. Siksa Neraka

Tubuh terpelanting bagai bola

Amal baik ia tak punya

Tercebur pada kolam membara

Melahap bulat-bulat raga

Menanti palu gada raksasa

Atas tanggapan dosa

Yang lain diguyur cairan berapi

Nampak ingin mensucikan raga-raga ini

Namun badan terkuliti

Tak habis dosa dikembalikan lagi

Diguyur cairan berapi berkali-kali

 

3. Firdaus

Dimana nikmat yang kamu beri

Pada hamba

Yang selalu menanti

Bertemu muka sang Ilahi

Nikmat andal apalagi

Untuk yang selalu sujud

Untuk yang selalu penuh kasih

Untuk yang selalu dzikir

Ketika firdaus menunggu

Dibukakan gerbang megah

Pada hamba yang terpana

Menyambutlah sang bidadari

Hilanglah susah hidup dunia

Diganti nikmat di surga

Balasan bagi yang bertakwa

Yang selalu ingat kepada Sang Pencipta

 

Puisi Islami Tentang Persaudaraan

Sebagai sesama umat Islam tentunya kita harus saling menjaga hubungan persaudaraan.

Hubungan persaudaraan yang terjalin baik memang menjadi sebuah hal yang indah.

Oleh lantaran itu seringkali persaudaraan dijadikan tema puisi ibarat berikut ini :

 

1. Menuntut Sama

Kadang kamu anggap benar

Dan itu menjadi ‘maha benar’

Menolak pendapat handai taulan

Lalu timbul perpecahan

Hidup ini sangat lucu

Gara-gara ini timbul kemelut

Gara-gara itu bergelut

Tentang sepele persaudaraan tercabut

Allah mencipta makhluk berbeda-beda

Tapi kalian mengkotak-kotak,

Menuntut sama

Ah, lucunya

 

2. Hilang Persaudaraan

Aku terpekur

Nyaris mendengkur

Sanak saudara telah kemana

Teman-teman pergi kemana

Indahnya satu yang dulu

Tak ada teriakan saling menuduh

Menyalahi yang ini

Menyalahi yang itu

‘aku yang benar dan kamu salah.

‘bukan, saya yang benar kamu yang salah.

Bertatap muka menghujat

Dimana saudara yang habiskan masa riang

 

Puisi Islami Tentang Menuntut Ilmu

Seperti yang kita ketahui bahwa agama Islam mewajibkan kita untuk menuntut ilmu.

Kadang segala sesuatu yang berkaitan dengan acara menuntut ilmu bisa menjadi wangsit untuk menulis puisi Islami.

Di bawah ini beberapa tumpuan puisi Islami yang bertemakan menuntut ilmu :

 

1. Pesantren

Riuh kecil kaki kami berlari

Adzan shubuh telah memenuhi bumi

Suara bel berbunyi nyaring

Teng-Teng

Teng-Teng

Semakin terbirit mengejar ngaji

Lepas shubuh menyiapkan diri

Berseragam necis serta rapi

Menjinjing kitab kesana-kemari

Menyimak guru setiap hari

Kadang terkantuk

Lalu kibasan sajadah menghampiri

Demi mencar ilmu agama

Kami terpisah dengan orang tua

Kadang sebulan bersua

Kadang berbulan-bulan menahan jumpa

Tapi tak apa

Ingin orang renta mengabdi agama

Menjadi insan cendekia

Yang selalu ingat pada-Nya

Dan selamat berbalas ridho-Nya

 

2. Hormat Guru

Menunduk kami lantaran ilmumu

Tawadhu mengharap ikhlasmu

Niat berbagimu tiada jemu

Oh guru, kamu kolam oase di tengah gurun

Penyejuk dahaga akan ilmu

Laku baikmu menjadi tiruku

Oh guru, doakan kami muridmu

Agar senantiasa terarah

pada sikap muliamu

 

Puisi Islami Tentang Nabi Muhammad

Nabi Muhammad yaitu junjungan umat Islam.

Kehidupan Beliau pada masanya memang sangat menginspirasi hingga kapan pun.

Oleh lantaran itu seringkali dibentuk puisi sebagai apresiasi dan kekaguman terhadap sosok Nabi Muhammad.

Berikut misalnya :

1. Suri Tauladan

Kau lahir tanpa ayah

Penuh cahaya elok rupawan

Seolah semesta ikut tunduk

Pada kehadiranmu

Kanak-kanak kamu ditinggal ibu

Bersama kakek pelipur pilu

Kau menjadi nabi

Pada tahun ke-empat puluh

Menyandang gelar al-amin

Yang sanggup di percaya

Kaum Quraisy kamu hadapi

Baik yang membela atau memusuhi

Bagimu tak ada sirat benci

Kau ingatkan mereka untuk tunduk pada Ilahi

Meski kerikil pernah melukai kening

Kotoran melayang menodai jubahmu

Olokan menghujanimu tiap waktu

Tapi kamu tetap melempar senyum

Tak ada keluh menghadapi umatmu

Tak ada ragu menuntun umatmu

Kau teguh pada keyakinanmu

Allah selalu menjagamu

 

Puisi Islami Tentang Akhlak

Islam mengajarkan kita semoga mempunyai susila yang mulia.

Untuk menyebarkan pendidikan mengenai susila bisa banyak sekali macam cara.

Tak terkecuali dengan puisi. Di bawah ini tumpuan puisi Islami perihal susila :

 

1. Akhlak Terpuji

Indah dimata menatap sosok bersahaja

Tak perlu berkalung sorban

Atau berhias tasbih d antara jemari

Hanya senyum nrimo menghias bibir

Akhlak terpuji bukan hanya ditilik

Dari rupa

Dari berapa ia sujud dalam sehari

Atau dalil yang malah disombongkan

Tulus ibadahmu yang menjadi tolak ukur

Ikhlas kebaikanmu yang dicatat

Bukan lamanya kamu ambil ruku’

Namun hati berdusta

 

2. Sedekah

Tatkala kamu memberi

Tanpa pamrih hinggap di hati

Pada sosok renta bersandar

Yang bermuka kuyu serta letih

Pada persimpangan jalan

Ia menjinjing surat kabar pagi

Dengan selendang menyampir

Lindungi terik matahari

Bagimu lembaran yang kamu beri

Sungguh tak seberapa

Tapi jangan kira tak hanya beliau yang bahagia

Hatimu bahkan lebih bahagia

Bukan hartamu yang akan berkurang

Ketika kamu mengikhlaskan pada sosok tua

Senyum senang kan merekah

Di sisa hari yang masih panjang

 

Kesimpulan Puisi Islami

Dari pembahasan ini menyimpulkan bahwa puisi islami untuk diri sendiri, remaja dan cukup umur  merupakan karya sastra tertinggi di dunia segala aspek kehidupan di alam semesta di rangkai dalam puisi-puisi islami yang menyejukkan dan menentramkan hati pembacanya.

Lalu puisi puisi islami itu diaktualisasikan dalam banyak sekali klasifikasinya untuk dijadikan materi, media, bahkan pembelajar bagi seluruh umat manusia. Fungsi Fungsi Puisi islami Dalam kehidupan Dan Contohnya yang dibahas diatas yaitu bukti bahwa puisi islami salah satu sastra yang besar.

Para penyair penyair Islam selalu menuangkan kemuliaan akan mahakarya sastra tertinggi. Semua jenis puisi islami yaitu pembelajar dan sangat potensial untuk pengembangan sastra dalam diri anak. Puisi Islam yaitu sastra yang kaya akan nilai nilai kemuliaan diri semoga puisi puisi islami sanggup menjaga doktrin dan memperkuat kecintaan terhadap Allah sang maha pencipta.

Avatar
keisha almahira Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *