Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

20 Puisi Pendek dari Berbagai Tema dan Penuh Makna

13 min read

contoh puisi pendek berbagai macam

Puisi Pendek – Hal apa yang ada di pikiran anda ketika mendengar kata puisi? Mungkin yang terbersit di pikiran ialah sebuah karya yang terdiri atas kata-kata indah dengan tema tertentu.

Ya, semua hal di dunia ini bisa dijadikan tema untuk membuat puisi. Di bawah ini kumpulan puisi pendek wacana kehilangan, cinta, islami, dan alam.

Setiap individu mempunyai cara mereka masing-masing, dengan cara ekspresi yang tidak sama. Salah satu cara dalam berekspresi yang sering dipakai ialah melalui penciptaan puisi pendek.

Dalam praktiknya bisa menggambarkan banyak sekali emosi di setiap sisi kehidupan yang berlainan. Seperti rujukan puisi pendek berikut untuk banyak sekali insiden dalam hidup:

 

Puisi Pendek Religi

Sisi kehidupan agama merupakan sisi yang dimiliki oleh semua orang.

Aspek religius menjadi hal utama pada setiap diri manusia.

Ada banyak dongeng suka sedih yang akan terangkai dalam kehidupan di bidang religi.

Semua itu akan tergambar pada puisi pendek berikut:

 

1. Menyerah

Cerita keteladanan membuat saya merasa mual

Semua kurasa sudah cukup, saya ingin memuntahkannya

Mual dengan apa yang ada padaku

Memuntahkan semua yang menjadi milikku

Bagaimana bisa?

Atau hanya saya yang tidak bisa

Terdiam bagai patung, mencerna tanpa memperoleh makna

Dalam satu atau dua, mati menjadi lebih terpuji

Belajar lebih banyak untuk  mengerti tanpa berkuasa atas diri sendiri

 

2. Butir Mutiara Dari Pendosa

Aku pendosa, hilangkan taat untuk khianat

Memilih pergi dari tinggal untuk mati

Naluri memaksa saya untuk tetap menyerupai koloni

Liar, brutal

Aku pendosa

Mengemis, dalam iba yang dipandang sebelah mata

Takut, kecil tidak berarti

Mengais ampunan dalam sisa yang begitu memuakkan

Aku pendosa

Menitikkan air mata mutiara dalam kalut hati penuh emosi

 

3. Hakim Maha Adil

Untuk siapa semua kerja dan susah payah

Kabarnya ada ganjaran berupa nirwana dan neraka

Hingga lelah tidak lagi sanggup dirasa, hingga sakit tidak lagi bisa mempengaruhi

Mereka bermaksud apa dengan kerja keras dan susah payah

Katanya ada segunung harta yang menjadi perebutan semua manusia

Untuk apa bumi sibuk tiada henti

Kami mempunyai peta hidup sendiri-sendiri

Tentang pahala dan dosa, kami tidak peduli

Hidup menjadi baik biar hidupmu baik

Yang maha adil melihat dari langit yang begitu tinggi

 

4. Menaklukkan Rasa Sakit

Dalam dunia yang gelap, nyatanya tidak semua memerlukan cahaya

Dalam hamparan yang bisu, tidak semua pendengaran memerlukan alunan merdu

Mata menjadi menyala kepada apa yang telah bundar terkunci anak panah

Sayup-sayup musik tidak lagi penting, dalam hati telah bernyanyi lagu-lagu cambuk diri

Untuk bersujud kami berjuang

Melawan mata peluru dan anak panah bermesin

Hanya untuk bertamu ke rumah Tuhan kami

Satu langkah mungkin saja kami hanya mendapatkannya hari ini

Gerakan kecil membangunkan moncong meriam menentukan kepala-kepala melekat tanah

Seperti kesiaan kalian terus menabur  lelah menawarkan sakit pada kaum kami

Tidak ada keraguan, tidak punya rasa takut, berdiri diatas duri, sujud meski meteor menghujani

 

5. Esok Hari

Bilakah kau bertanya esok menyerupai apa dunia?

Ia yang lelah, ia yang terlalu banyak menjadi saksi

Dunia yang bosan, insan terus mengucapkan kemunafikan

Tiang renta terus tergeruk oleh serakahnya

Bila bumi dihancurkan, kami telah membaca

Gunung dan kapas berterbangan

Kandungan yang gugur, kami menjadi lupa diri alasannya ialah ngeri

Ampunan telah tertutup, hanya penyesalan yang membuat kita sama

Bila lah mana matahari lupa akan garis edarnya

Kata ampun sudah tidak lagi bermakna

 

6. Dalam Bumi Gelap

Tersihir, semua tertunduk alasannya ialah malu

Sesaat, untuk kemudian kembali terjaga dan bertelanjang

Menari, mengucapkan mantra-mantra

Terselubung, gelap beratap sinar dari api abadi

Pantas saja Tuhan menjadi murka

Dalam bumi gelap,suara tangis tidak menjadi satu-satunya bunyi

Duka bukan pula satu-satunya rasa

Dalam bumi yang gelap

Manusia menjadi Tuhan untuk diri mereka sendiri

 

7. Ampunan Kembali

Tidak pernah kecewa saya meminta, tidak akan pernah ada kecewa untuk mengiba

Permohonan kepada langit yang disampaikan senandung merdu kesunyian

Titik embun menyentuh kering untuk pertama kali

Memberikan pengharapan hidup pada gersang

Sebuah benih berakar pada mulanya

Topan kencang tidak akan lagi menggoyangkan

Kini besar lengan berkuasa laksana gunung menjulang

Tidak ada doa yang terbengkalai dalam daftar terkabulnya

Untuk yang terbaik semua akan menjadi baik

 

Puisi Pendek Bertemakan Alam

Takdir hidup bersandingan dengan alam dari lahir hingga dengan meninggal, mengakibatkan insan dan alam mempunyai kekerabatan yang erat.

Dalam praktek kehidupannya tidak selalu semua itu akan berjalan dengan mudah.

Banyak masalah, rintangan dan bahkan kesan keserakahan dengan unsur materi.

Berikut puisi pendek bertemakan wacana alam:

 

 

1. Hijau Ku Cinta

Pernahkah kau pahami wacana wangi ketika gerimis membelai bumi

Rasa yang besar lengan berkuasa seolah mengalun menyalami memberi damai

Pembawa harapan, menyinarkan keluh kesah

Padanya ada salam yang langit titipkan

Untuk mereka dengan tabah menguatkan tabah di setiap detik

Laju lembut, tak membiarkan satu lubang semut tanpa rejeki

Kau akan terpesona ketika genangan hujan mulai surut

Terkumpul jauh hingga samudra luas

Bekas jejak subur ialah buang tangan

 

2. Tentang Mereka

Alkisah wacana mereka yang tidak lagi mengerti, ngeri menjadi di kala ambisi terus di isi

Dengan lahapan api, dengan mesin pemberani

Seperti tuli pendengaran yang dibawa sepanjang hari

Bisik menyeramkan tidak memundurkan tekat

Rupiah menjadi sesembahan  yang kuasa insan yang sama

Tentang mereka dengan hati tak lagi peduli

Jiwa malang menjadi bergelimpangan mengakhiri suratan

Tertahan air mata akan mereka tumpahkan pada yang menawarkan mereka hidup

Sesaat sesudah iblis itu pergi

 

3. Atap Langit Berbintang

Berbaringlah saya pada daerah terdamai yang pernah saya singgahi

Dalam pakaian tercantik dengan wangi yang sangat senang untuk terus saya endus

Bila ada cermin mungkin tak akan saya menoleh langit

Terlalu sibuk dan takjub saya dengan apa yang menjadi milikku ketika ini

Ini bukan malam perkawinan, saya mengerti

Gaun putih dengan riasan anggun meski tak nampak pantulanku di tanah hijau

Beratapkan langit berbintang satu-satunya saksi

Aku indah dalam kepungan peti mati

 

4. Malang

Bertahan dalam tanah tandus

Gerimis nirwana menawarkan nafas sambungan yang tepat pada waktunya

Seketika kembali mencengkeram kejam bumi

Mencari pemberian terkokoh menghindari sekarat kembali

Kemana rekan, kemana saudara

Hanya sendiri di tengah tanah gersang tidak berpenghuni

Tidak ada kumbang tidak akan nampak pelangi bunga

Tatapan mata ialah besar lengan berkuasa ku, dan ku sanggup dari bayangan ku sendiri pada pecahan kaca

Kemana bunyi tawa itu pergi

Aku menggeliat di tanah gersang tak ada yang menemani

 

5. Cerita Lama

Kala itu tak lagi langit mempunyai rasa senang meski sedikit

Kabut seolah mempunyai kuasa untuk mengisolasi

Jarak terbentuk pada kaum langit dan pertiwi

Semua yang keluar dalam verbal hanya terdengar kembali oleh sumber suara

Oleh penjagaan yang ketat, tidak ada yang melewati batas garis meski satu langkah saja

Beritanya itu soal ibu yang murka

Memuntahkan benci sesudah sekian usang ia telan sendiri

Di tepi sebuah kubangan air, semakin menjadi lah amarah dan caci maki

Kabarnya dongeng usang itu pun menawarkan sedih hingga ke negeri yang jauh di sana

 

6. Garang

Kejar-mengejar tanpa jeda

Mengular melewati semua yang bisa ia lenyapkan

Mengupas misteri dalam kotak sirkus tanpa lelucon

Mawar di tangan muncul duri dan melukai

Cerita ini soal dendam tidak hanya mengenai aku

Permohonan yang hilang tertelan rasa amarah yang lapar

Rata sudah kalian tidak ada

Aku kembali tenang seakan tidak terjadi apa-apa

 

Puisi Pendek Percintaan

Cinta ialah anugerah paling luar biasa, daerah mencari kedamaian dan sekaligus pertentangan.

Dalam kehidupan cinta ada senyum dan tangis yang silih berganti saling mengisi.

Percintaan membuat seseorang menjadi penyair yang bisa membuat puisi pendek dengan rinci segala peristiwanya.

Inilah contohnya:

 

1. Satu Kamu

Ah… jikalau lah mana

Manusia itu himpit menghimpit memenuhi bumi

Aku tidak mencicipi keterbatasan dan dunia ku tetap akan luas

Berlarian dengan memeluk bersahabat lengan mu

Mengitari bumi yang tidak begitu luas, ku rasa

Bila lah mana, matahari tetap diam dalam pelukan malam

Aku tidak akan melihat gelap, alasannya ialah hidupku akan selalu terang

Bersama sinar matamu yang menjadi kekuatan

Meleburkan kesedihan untuk semua nanar yang saya tatap

 

2. Tergoda

Oleh sebuah pesan berantai yang berhenti di aku

Akhir cinta hanya untuk satu orang istimewa

Mengucapkan janji suci untuk sejenak meleburkan waktu

Sampai nafas terakhir hidupku telah terikat oleh janji

Satu selamanya ku rasa tidak akan pernah cukup

Bersama dahaga kian lara

Untuk sekali lagi, bolehkan saya mintakan kelonggaran

Berikan lagi dia, bagai permata

Kembang yang belum mekar sempurna

Untuk sekali lagi

Bolehkan saya minta tambah satu

Kepada momen ketika ku curi kilatan mata yang menghentikan rotasi galaksi

 

3. Cerita Bersama Dia

Kenyang ku telan air mata yang saya keluarkan

Terlalu berisik mendengarkan tawa yang kita sengaja untuk mengakibatkan lebih keras

Lelah berusaha terlihat tepat dalam dekap mu yang memang tanpa cacat

Ijinkan waktu melambat di sini

Detik terasa usang untuk saya mengatur nafasku kembali

Tepat di titik ini, tepat menyerupai ini

Tubuh tambun yang menghangatkan suasana yang beku

Mengapa lah semua meski kisah ku bersamamu

Tunggulah, akan ku bunuh semua ragu

Maaf jikalau saya kembali dengan penuh luka dan tidak anggun lagi

 

4. Terakhir

Untuk kali ini mungkin semua tidak akan pernah terulang

Memohon, lutut itu bertekuk tidak untuk ketika berikutnya

Itu ialah nya terakhir yang ku bagi dua

Maaf saya tidak bisa menawarkan mu semua meski kau terus meminta

Dengan mati saya tidak bisa lagi mencintai

Dengan mati saya tidak akan pernah bisa melindungi

Mati, tidak akan bisa memberiku waktu untuk memberi

Mati?

Itukah yang bersama-sama kau minta

 

5. Bangku Di Teras Rumahku

Pernah

Di kala senja memudar melebur menjadi kelabu

Di ketika matahari sangat lelah hingga tak menemani kami untuk duduk dana berbincang

Kelebatan malam tidak lagi menawarkan ultimatum ketakutan untuk surut ke belakang

Orang yang tepat. Hingga jendela tertutup tidak membuat saya turut masuk

Kursi di luar teramat nyaman dengan kau di sampingnya

Pernah

Rasa sakit teramat berat hingga ketika matahari masih ingin terduduk saya telah beranjak

Mencoba menyembuhkan luka, memercikkan kata mengerti untuk merajut kembali

Pernah

Tidak ada kau dan matahari, saya masih berlama di sana

Meneriakkan rindu

Kepada bayang bisu yang telah pergi

 

6. Kantong Remah

Berbahagialah

Kalian yang mempunyai kantong utuh kebahagiaan tidak terbagi

Membawa tawa lekat dan tidak akan menjauh

Mengering air mata alasannya ialah suka di setiap waktunya

Berbahagialah

Bila kantong itu bukan berisi remah

Tapi satu di dalam kesatuan hidup yang padu

Tidak menyeret beban tanpa peluh bercucur

Berbahagialah

Untuk sekantong penuh

Tanpa retak, tanpa koyak

 

7. Dalam Takjub

Aku tidak melihat yang sama

Ke pada ke dua permata yang bersinar sebagai pertanda

Tidak, saya tidak tertarik kepadanya

Hanya dua buah permata sama rupa

Kagum ku tidak terpaku pada cuilan itu

Menyeluruh, lebih mengena

Tidak hanya pada dua bola mata

Namun,menilik hingga jauh pada hatinya

 

Puisi Pendek Tentang Rasa Sakit Hati

Banyak yang tidak bisa memaafkan keberadaannya, rasa sakit hati menjadi sesuatu paling menyakiti.

Kebesaran hati untuk memahami menjadi sulit untuk muncul pada kondisi ini.

inilah rujukan puisi pendek wacana rasa sakit hati yang menawarkan sedikit bocoran wacana penderitaan di dalamnya:

 

1. Menuju Kematian

Seribu sakit menyatu dalam satu juntaian temali mematikan

Menyekap seorang diri tanpa imbang perhitungan kekuatan

Tanpa udara yang di alirkan

Kematian dipercepat tanpa ada koordinasi seluruh semesta

Keju

Mati rasa

Luka

Melukai

Khianat, dalam balutan abdi

Menyulut satu emosi yang menjalar menjadi dendam dalam diri

 

2. Percuma Maka Lepaskan

Sedikit percik menyulut kebakaran yang besar

Satu titik melebar membuat blok kekuasaan

Duka melejit menjadi hujan berbatu

Menumpahkan darah, ricuh menyelimuti diri

Tidak ada yang ikut turut

Tidak ada yang ikut merasa meski mereka mempunyai hati

Dan tidak ada teman pengurang nyeri

Derita diri pada keputusan tidak tahu terimakasih

 

3. Catatan Kelam

Ruang perawatan ialah lebih baik

Lebih tepat ketimbang harus sehat berjalan wajar

Lebih indah untuk sekedar pendar cahaya bulan

Pada waktu di mana semua harus mendapat ultimatum untuk terus berjalan

Tanpa arti jarak yang telah tertempuh

Bila kau pergi sesaat sesudah saya ada pada waktu

Untuk apa senyum penyambutannya

Bila tangisan tak bisa kau bendung pergi

Sesaat sesudah semua di mulai, ini telah usai

Cerita kita bergegas berakhir

 

4. Tidak Hanya Aku

Kenangan akan sedih cita mana yang lebih mengerikan

Dari hati yang tidak lagi utuh untuk terus mempertahankan sekali nafas

Dalam tarikan sedih kian lebar senyum yang menipu

Wajah bertopeng sebagai penyamar

Purnama menerangi bumi tepat diatas kau dan bukan bersama aku

Cukup celas untuk tunjukkan semu rona pada diri seolah sangat lugu

Langkah detakan arloji semakin membuat sakit pada kebahagian kalian yang semakin nyata

Untuk satu langkah maju mu

Seribu kaki lari saya menjauh

 

5. Memilih

Terbesit tanya semesta mengenai kartu untuk daerah berikutnya

Merah, kuning dan hijau

Maju atau berbelok

Terdiam, membiarkan semua mensugesti kesadaran

Benar dan salah seakan menjadi samar seketika

Cahaya menjalar menjadi gelap

Tinggalku tidak ada penghargaan

Dan langkah pergi yang kau cegah

Mungkin melebur  hilang ialah satu cara terbaik

 

6. Jalan Yang Ku Benci

Mengenai jalan berbatu memang telah kita sepakati sebelum perjalanan panjang ini

Juga kemungkinan lava mengikuti kelokan gunung melalui jalur kita

Atau wacana salju turun lebat, dan kita tidak punya daerah penghangat

Hanya sebatas itu bukan

Lantas kenapa meski begini

Kau bilang perjalanan ini untuk kita

Lalu kau ciptakan jarak terpelihara biar saya bisa luas menari dalam sendiri

Berharap kau menoleh ketika saya menatap ke arah yang sama

Dan ku temukan kau tak lagi memandangku menyerupai katamu

Berdua, arah yang kau ambil berbeda dengan nirwana pencarian

 

7. Menuju Yang Terakhir

Terjalin semua untai dari pita yang berwarna dalam masa berbeda

Satu untai untuk satu kala waktu sebelum itu

Terkabur dalam pilihan jenis warna yang nyaris sama

Satu kotak terakhir beka perbekalan telah saya habiskan untuk menguntai anyaman kisah

Sebuah simpul kunci kau tarik kasar

Hingga semua berbaur

Seperti daun berguguran berantakan tanpa kendali

Menuju titik terakhir

Aku kembali terpatahkan

 

Puisi Pendek Perjuangan

Hasil yang indah tidak akan pernah terjadi melalui proses mudah.

Kesulitan merupakan jalan yang menjebatani untuk meraih sedikit kebahagiaan.

Perjuangan akan menjadi terabadikan melalui karya sastra menyerupai puisi.

Inilah puisi pendek wacana keras usaha :

 

1. Kata Terlarang

Boleh kah saya sendiri untuk kali ini saja

Majulah terlebih dahulu jangan menunggu

Tidak usah kau ikat saya untuk menyertaimu

Kali ini saja

Aku perlu waktu untuk menumpahkan sedih yang ku bawa

Meringankan beban bahu, untuk kembali menyusulmu

Aku menyusulmu

Tutup telingamu untuk menghentikan bunyi tangis yang mungkin akan melemahkan

Kesendirian ialah apa yang saya butuhkan

Aku akan menyusulmu

Dengan langkah lebih indah

 

2. Seberkas Sinar

Merangkak

Menahan lapar hingga kulit ini terasa enak dalam satu jilatan pengecap rakus

Aku memotong jari kaki, menegakkan badan lengkung

Perih semakin menjadi

Darah mengucur menyerupai ingin membuat prasasti

Untuk daerah yang pernah tersinggahi dengan hati tercabik

Ia tiba lagi, memungut dan lemparkan saya ke daerah asing

Sampai dengan denyutan nadi yang kian melemah

Udara tarik keluar semakin cepat

Kala pertama ku patahan lenganku sebagai pereda lapar yang tak tertahankan

 

3. Masih Ada Perjuangan

Hari ini belum usai

Mata yang terpejam  tidak memastikan semua yang terkondisikan

Hati tidak berhenti bekerja meski raga tak lagi siaga

Dalam perang semua mata menyerupai terbuka meski tanpa ledakan dan hujan senjata

Langkahmu masih jauh

Senjamu tak bisa lebih jelek dari aku

Kepada setiap pohon yang saya tanam

Ia akan menawarkan satu isu sebagai pengobat luka

Derita tidak mengerikan

Langkah yang berhenti itulah akhir

 

4. Ke Lima Puluh Dua

Makna apa dalam lima puluh dua

Itu hanya dua angka yang kau dapatkan dai tahun ke dua puluh lima

Semua masih sama, hanya kita semakin menua

Tentu semua semakin berat dari waktu ke waktu yang berlalu

Dalam renta kita mencoba penjaga utuh kala dua puluh lima berkuasa

Tidak gampang tentu semua itu kita ceritakan kepada tunas muda yang seakan paling perkasa

 

Puisi Pendek Kehilangan

Kehilangan memang menjadi suatu hal yang menyakitkan.

Namun sebaiknya jangan karam dalam kesedihan alasannya ialah kehilangan.

Lebih baik menumpahkan perasaan kehilangan tersebut dalam puisi pendek menyerupai rujukan berikut ini :

 

1. Surga Untuk Bunda

Sendu hati menggores luka

Sembab mata memerah duka

Bersimpuh di samping pusara

Terpaku menahan lara

Ku sertakan doa untuk sang bunda

Bersama sejumput bunga mawar nan merona

Dan wangi semerbak pandan yang manja

Mengalahkan wangi bunga kamboja

Bunda

Kini engkau hidup di alam sana

Kembali kepada Yang Maha Kuasa

Aku berharap engkau tenang menghadap-Nya

Bunda

Kini saya sebatang kara

Tanpa tawa tanpa suka

Namun, selalu ku panjatkan doa

Surga untukmu bunda

 

2. Hati Yang Hilang

Mata tak henti tumpahkan airnya

Hidung memerah kalahkan pipi merona

Isak tangis beradu dengan degub jantungnya

Ada sayatan luka dalam jiwanya

Mencoba memutar kembali memori

Dimana ketika itu cinta menyatukan hati

Dimana ketika itu kasih sayang selalu berbagi

Ucapnya cinta hingga mati

Namun, malah terkhianati

Cinta itu kehilangan hati

Tersisa hanya janji

Ku coba tegarkan kembali

Hati yang terusik ini

Kuat meski sendiri

Tanpa ada hati lain yang menemani

 

3. Sejuta Tangis

Lihatlah mereka meringis

Menahan hati yang menangis

Lemah tanpa daya bagai teriris-iris

Terselubung sedih yang berlapis-lapis

Harta benda pergi

Keluarga entah masih hidup atau mati

Dirinya di rundung sepi

Di tengah keramaian peristiwa yang bertubi-tubi

Tak hanya gempa namun tsunami

Menelan jiwa dan materi

Terlukis sejuta tangis

Pada hatinya yang terkikis

 

Puisi Pendek Cinta

Salah satu hal yang sering sekali dijadikan tema puisi ialah cinta.

Terkadang memang ketika mencicipi cinta kita mendapat ide untuk membuat sebuah karya termasuk puisi pendek.

Di bawah ini beberapa rujukan puisi pendek wacana cinta :

 

1. Akankah Cinta

Kurasa cepat degup jantungku

Nafas semakin memburu

Sesak dada bagai terhalang batu

Seribu rayuan jatuh di hadapanku

Namun hanya ada satu

Telah bisa luluhkan kalbu

Siapa ia wahai pelukis rindu

Teka-teki penuhi ruang otakku

Ingin sekali ku berjumpa denganmu

Namun apalah waktu tak berpihak padaku

Ku kemas bayang wajahmu

Dalam ruang yang semu

Namun kasatmata ada padaku

Inginku jaga sepanjang waktu

Mungkin saja ini takdirku

Akankah ini cinta untukku

Wahai engkau penghuni hatiku

 

2. Ku Arung Cinta Bersama

Rindu ini menyiksa diri

Cinta ini penuhi hati

Angan bersamanya selalu saja menggelitiki

Diriku yang ingin pria penyejuk hati

Detik waktu berputar tanpa henti

Doa kepada yang Maha Membolak-balikkan hati

Teguhkan hati untuk selalu menjaga diri

Persiapkan diri menjemput pujaan hati

Kini

Doaku terjawab lewat komitmen yang suci

Oleh pria teman hidupku kini

Meniti bersama di atas bumi

Mengarung cinta bersama

Menggapai nirwana dari-Nya

 

3. Ketika Jatuh Cinta

Cinta

Datang dengan tiba-tiba

Tanpa salam tanpa sapa

Namun bisa membuatku bahagia

Cinta bisa lepaskan dahaga

Cinta bisa hilangkan duka

Cinta bisa hangatkan suasana

Cinta dan cinta

Begitu indah tersimpan dalam dada

Aku terhanyut dalam kata-kata

Yang selalu keluar darinya

Aku larut dalam senyumnya

Aku luluh dalam pandangnya

Wahai pria yang selalu ku puja

Inikah rasa ketika jatuh cinta?

Jatuh cinta

Buatku bahagia

 

4. Kan Ku Pinang

Termenung diantara riuhnya senja

Bibirku diam tanpa kata

Mataku seakan sedang bicara

Mengingat wahai dikau cinta

Wajahmu nan rupawan sejukkan jiwa

Senyummu lelehkan setiap detik waktu

Tergerai manja rambutmu

Bibirmu merona membingkai wajahmu

Lembut suaramu membuatku rindu

Tunggulah sayang kan ku sapa dirimu

Kan ku pinang kau dengan cintaku

Lewat komitmen suciku kepadamu

Di hadapan ayahmu

Dan Tuhan yang Maha Tahu

 

Puisi Pendek Islami

Islam merupakan sebuah agama yang indah.

Berbagai karya bernafaskan Islami sanggup meneduhkan kegalauan hati dalam kehidupan kita.

Seperti rujukan puisi pendek bernafaskan Islami berikut ini yang menginspirasi :

 

1. Doaku

Malam begitu kelam

Tanpa wajah bintang dan rembulan

Angin berbisik di sela-sela dedaunan

Lengking jangkrik tepis kesepian

Mungkin hujan akan segera tiba

Melepas bumi penuh dahaga

Kering layu tanpa tenaga

Menanti penuh asa

Tiba-tiba

Gelegar petir pekakkan telinga

Menyambar pucuk pohon disana

Hingga tak lama

Hujan deras turun dari langitnya

Pengobat bumi akan rindu airnya

Ku tengadahkan tangan memohon kepada-Nya

Ya Allah

Berkahilah setiap langkah kakiku

Berkahilah setiap hembus nafasku

Berkahilah setiap degub jantungku

Ingin senang selalu ada dalam hidupku

Karena hanya kepada-Mu

Ku pinta semua harapku

Wahai Tuhan Sang Pencipta diriku

 

2. Jangan Sekarang Tuhan

Aku tau

Bumi ini kering alasannya ialah kuasa-Mu

Gunung itu muntah alasannya ialah takdir dari-Mu

Laut itu tumpah alasannya ialah keperkasaan-Mu

Tanah ini berguncang karena-Mu

Tuhan

Inikah peringatan dari-Mu

Atas dosa-dosa insan ciptaan-Mu

Masih saja insan lalai akan teguran-Mu

Larut dalam foya-foya pengikis waktu

Aku takut akan ini

Dimana Engkau akan mengambil sepertiga

Demi sepertiga kenikmatan dari langit dan bumi

Dimana akan tiba saya lunglai

Makanan minuman tak ada

Handphone tak ada

Bahkan keluargapun lupa

Hanya ada akidah bisa kuatkan jiwa

Dzikir bertasbih kepada-Nya

Akan lepaskan lapar dan dahaga

Apa daya lemahnya iman

Jangan kini Tuhan

Aku tak ingin merasakannya

Ku kuatkan ibadah kepada-Nya

Mengharap ampun dari-Nya

 

Puisi Pendek Keindahan Alam

Alam yang indah merupakan suatu karunia dan berkah Tuhan. Seperti halnya negara kita Indonesia yang telah dikarunai pemandangan alam yang indah di hampir siap sudut wilayahnya.

Ketika menikmati keindahan alam, terkadang kita jadi mempunyai ide untuk membuat karya puisi. Berikut ini rujukan puisi pendek yang menceritakan wacana keindahan alam :

 

1. Keindahan Alam

Angin berdesir daun-daun menari

Air gemericik burung kicaukan langit tinggi

Tubuh hijaunya rebahkan diri

Manjakan mata sejukkan hati

Sungguh indah alam ini

Berpayung kemegahan langit biru hiasi bumi

Awan bagai kapas putih melati

Taburkan keelokan yang menginspirasi

Untuk diriku berpuisi

Harapku semua akan tegar berdiri

Temani sajak-sajakku ini

Janganlah sirna terhapus perbuatan keji

Oh alamku teman sejati

 

2. Tarian Ombak

Ku peluk lutut hingga dadaku

Beralas pasir putih nan lembut bagai debu

Tak henti angin menggelitiki diriku

Lewat helai rambut tergerai malu

Ku jatuhkan pandangku ke maritim biru

Menunggu ombak tiba padaku

Lewat tarian ombak pembawa rindu

Pembawa isu dari kekasihku

Yang tiba dari tanah orang bermata biru

Hingga tiba waktu

Ia menari meliuk-liuk menghibur kalbu

Datang menyapaku

Menyapu lembut jari-jari kakiku

Tinggalkan buih-buih rindu

Dari dan untuk kekasih tercintaku

 

3. Hujan Pagi Hari

Ku lihat dari balik jendela

Langit begitu murung dipandang mata

Awan bagaikan kumpulan kapas hitam

Semakin tebal semakin kelam

Akankah hujan akan tiba?

Meski pagi gres saja bangun dari mimpi

Enggan ku sibakkan selimut penghangat diri

Angin berdesir menelusuri kamar tidurku kini

Dan benar sebentar lagi

Hujan akan tiba di pagi hari

Mungkin akan mengantarku bermimpi lagi

Di atas ranjang empuk beraroma melati

 

4. Senja

Sebentar lagi ia akan pergi

Tinggalkan terangnya siang hari

Perlahan berangsur jauhkan diri

Menuntunku menjemput mimpi

Kini ia berdiri

Di atas garis kaki langit

Ia nampak tersenyum legit

Tepis kehidupan yang pahit

Sungguh elok

Jubah emasnya manjakan pandangan

Tersimpan dalam angan

Suguhkan kenikmatan setiap insan

Wahai senja yang rupawan

 

Puisi pendek sanggup lebih mewakili isi-isi hati dari pada proses dokumentasi yang lain.

Terkadang menulis puisi-puisi pendek di perlukan untuk menggantikan hati yang lelah dan verbal yang enggan terbuka.

Dalam pembuatannya menghindari unsur sara ialah hal mutlak yang dihentikan diabaikan.

Itulah beberapa rujukan puisi pendek yang bertemakan wacana kehilangan, cinta, Islami serta keindahan alam.

Masih banyak lagi hal-hal lain di sekitar kehidupan kita yang sanggup dijadikan puisi.

Untuk itu teruslah berkarya dan menghasilkan puisi-puisi indah yang menginspirasi serta menenangkan hati.

Avatar
Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas