Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Suku Asmat – Upacara Adat, Rumah Adat, Bahasa, Seni Tari & Ukiran

3 min read

Suku Asmat – Sebaran, Ciri, Budaya, Upacara Adat, Rumah Adat, Bahasa, Seni Tari & Ukiran

Suku Asmat – Suku Asmat yaitu suku yang ada di Papua. Salah satu suku yang tinggal di Indonesia bagian timur ini sudah tidak asing lagi ditelinga kita. Sebagai suku yang paling terkenal di Papua, tentunya menarik dan berbeda dengan suku-suku lainnya di Indonesia.

Suku Asmat juga mempunyai populasi penduduk terbesar di Papua. Penduduk Suku Asmat sanggup kita temukan persebarannya di pedalaman dan di tepi pantai. Kebudayaan yaitu cermin kehidupan suatu masyarakat.

Begitu pula dengan Suku Asmat yang mempunyai kebudayaan yang melambangkan kehidupan mereka. Kebudayaan bagi mereka bukan sekadar turun temurun, namun lebih dari itu sebagai rujukan dan tujuan besar yang tersimpan di dalamnya.

Sebagai suku yang unik khas timur tentunya mempunyai keanekaragaman budaya, keanekaragaman yang dimiliki oleh Suku Asmat akan dijelaskan selengkapnya dibawah ini:

Upacara Adat Suku Asmat

Seperti kebanyakan suku-suku di Indonesia lainnya, Suku Asmat juga mempunyai upacara adab tersendiri yang berbeda dengan suku lain. Upacara adab yang dimiliki oleh Suku Asmat seperti:

 

1. Ritual Kematian

Suku Asmat mempunyai pemikiran yang unik mengenai kematian. Pasalnya, mereka menganggap ajal bukanlah hal yang alamiah. Kematian diartikan sebagai adanya roh jahat yang mengganggu si meninggal tersebut. Sehingga, dikala kerabat mereka sakit maka mereka akan berbagi pagar dari dahan pohon nipah.

Pagar tersebut dimaksudkan biar roh jahat yang berkeliaran disekitar mereka tidak akan sanggup mendekati si sakit lagi. Mereka juga hanya akan berkerumun di sekeliling si sakit tanpa mengobati atau memberinya makan. Namun, dikala si sakit meninggal, mereka akan berebutan memeluk dan keluar menggulingkan tubuh di lumpur.

Setelah si sakit meninggal, maka mayit itu akan diletakkan di atas para (anyaman bambu) hingga dibiarkan membusuk. Tulang-tulangnya nanti akan disimpan di atas pokok-pokok kayu. Selain itu, tengkoraknya diambil untuk dijadikan bantal sebagai tanda kasih sayang terhadap si meninggal.

Ada juga yang meletakkan mayit si meninggal di atas bahtera lesung dengan dibekali sagu untuk dialirkan ke laut. mayit dikubur dengan ketentuan si laki-laki tanpa mengenakan busana sedangkan si perempuan mengenakan busana. Mayat-mayat tersebut dikuburkan di hutan, pinggir sungai, maupun semak-semak.

Orang-orang yang sudah meninggal juga dibuatkan mbis (ukiran orang). Hal ini alasannya yaitu mereka percaya bahwa roh-roh orang meninggal masih berkeliaran disekitar rumah.

 

2. Upacara Mbismbu (Membuat Tiang)

Mbis yaitu sejenis gesekan patung tonggak nenek moyang atau kerabat mereka yang sudah meninggal. Upacara sakral satu ini mempunyai makna sebagai pengingat kerabat mereka yang sudah mati dan terbunuh. Atas ajal itu, kerabat harus segera membalaskan dendamnya dengan membunuh pelakunya.

 

3. Upacara Tsyimbu (Pembuatan Dan Pengukuhan Rumah Lesung)

Upacara pembuatan dan pengakuan rumah lesung ini dilaksanakan setiap 5 tahun sekali. Perahu nantinya akan dicat warna merah berseling putih diluarnya dan warna putih didalamnya. Perahu tersebut juga diukir gambar keluarga yang sudah meninggal atau sanggup juga berupa gambar binatang, dan lainnya.

Setelah dicat, bahtera akan dihias dengan sagu. Sebelum menggunakannya, para keluarga berkumpul dirumah orang yang paling kuat di kampung tersebut. Biasanya yaitu kepala suku atau kepala adab mereka. Hal ini sebagai wujud perayaan dengan dipertunjukkan nyanyian-nyanyian yang diiringi tifa.

Para pendayung bahtera nantinya akan menggunakan hiasan cat warna merah putih dan bulu-bulu burung. Suasana akan bermetamorfosis ramai riuh dengan sorak sorai belum dewasa dan wanita. Namun dibalik suasana itu, ada juga yang menangis alasannya yaitu mengenang kerabat mereka yang sudah tiada.

Dahulu perahu-perahu yang dibentuk itu dipakai untuk memanas-manasi musuh biar berperang. Namun, seiring perkembangannya perahu-perahu tersebut dibentuk dan difungsikan untuk mengangkut materi makanan.

 

4. Upacara Yentpokmbu (Ritual Pembuatan Rumah Yew Atau Rumah Bujang)

Rumah bujang dalam Suku Asmat diberi nama sesuai marga pemiliknya.

Rumah bujang ini dipakai untuk aneka macam kegiatan yang religius maupun non religius.

Untuk Rumah ini juga dipakai untuk berkumpul keluarga. Namun dalam keadaan tertentu, menyerupai adanya penyerangan maka belum dewasa dan perempuan dihentikan masuk.

 

Tarian Dan Alat Musik Suku Asmat

Suku Asmat – Sebaran, Ciri, Budaya, Upacara Adat, Rumah Adat, Bahasa, Seni Tari & Ukiran
image source : https://getlost.id/2020/09/02/mengunjungi-desa-suku-asmat-dan-melihat-ukirannya-yang-mendunia/

Tarian Tobe merupakan tarian khas Suku Asmat yang disebut juga tarian perang. Jenis tarian Tobe dulunya memang tarian yang dilakukan dikala ada perintah dari kepala adab untuk berperang.

Seiring perkembangannya, tarian ini dipakai untuk menyambut tamu sebagai bentuk respect mereka terhadap tamu yang datang. Tarian Tobe ini dipadukan dengan nyanyian-nyanyian yang sifatnya mengkremasi semangat diiringi alat musik tifa.

Penari mengenakan manik-manik dada, rok dari akar bahar, dan daun-daun yang diselipkan dalam tubuh mereka. Hal ini melambangkan bahwa masyarakat Suku Asmat sangat akrab dengan alam.

 

Rumah Adat

Sebagai suku yang tinggal di pedalaman dan di tepi pantai, penduduk Suku Asmat mempunyai rumah tradisional yang berjulukan jeu. Rumah Jeu ini mempunyai panjang 25 meter.

Selain itu, banyak juga penduduk Suku ini yang membuat rumah di atas pohon.

 

Ukiran Suku Asmat Yang Khas

Suku Asmat terkenal dengan karya ukiran-ukirannya yang dibumbui nilai-nilai magis. Namun, dibalik itu ternyata gesekan Suku Asmat ini mempunyai makna dan fungsi tersendiri, yaitu : melambangkan kehadiran roh nenek moyang, mengungkapkan rasa sedih dan bahagia, lambang doktrin dengan motif manusia, hewan, dan tumbuhan.

Ukiran Suku Asmat mempunyai ciri khas yakni polanya yang unik dan bersifat naturalis. Hal ini alasannya yaitu masyarakat Suku Asmat akrab dengan alam. Lukisan mereka sanggup berbentuk manusia, hewan, tumbuhan, alat musik mereka, dan lain-lain yang menjadikan kesan estetis naturalis.

Bagi Suku Asmat, mengukir tidak hanya membuat sebuah gesekan dengan nilai estetis dan tingkat kerumitan tertentu. Lebih dari itu, gesekan dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap leluhur yang sudah meninggal. Sehingga nilai spiritualitas akan selalu muncul di setiap bentuk dan guratan pada ukirannya.

 

Adat Istiadat

Di dalam kehidupan kesehariannya, Suku Asmat mempunyai adab yang menjadi pegangannya secara turun temurun.

Adat istiadat ini hingga kini masih dijaga oleh penduduk Suku Asmat. Berikut beberapa adab istiadat yang berasal dari Suku ini:

  • Kehamilan. Masyarakat Suku Asmat sangat menjaga kehamilan seorang perempuan ditengah-tengah keluarga mereka. Mereka memperlakukan perempuan hamil dengan baik hingga tercapainya proses persalinan dengan selamat.
  • Kelahiran. Setelah mencapai proses persalinan, keluarga tersebut akan mengadakan upacara selamatan dengan pemotongan tali pusar menggunakan sembilu. Sembilu yang dipakai untuk memotong dibentuk dari bambu yang dilanjarkan. Untuk perkembangannya, si bayi akan disusui oleh ibunya selama usia 2-3 tahun.
  • Pernikahan. Pernikahan dilaksanakan dikala mencapai usia 17 tahun atau lebih. Tentunya hal ini telah mendapat akad dari kedua belah pihak. Selain itu, ada uji keberanian dari laki-laki untuk membeli perempuan menggunakan piring antik yang nilainya diadaptasi penafsiran harga bahtera Johnson.
  • Kematian. Pengecualian dalam mengurus orang meninggal berlaku bagi kepala adat. Kepala suku atau kepala adab yang meninggal mayatnya akan dimumikan dan dipajang di depan joglo Suku Asmat.

 

Kesimpulan

Demikian kebudayaan Suku Asmat yang bernilai estetis klasik yang ada dalam kehidupan masyarakat Suku Asmat.

Ada pelajaran berharga yang sanggup kita ambil dari Suku Asmat ini.

Meskipun masyarakatnya religius magis, mereka sangatlah menghargai alam alasannya yaitu segala acara dan yang terjadi yaitu alasannya yaitu alam dan seisinya.

Avatar
Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas