Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Tari Seudati – Sejarah, Gerakan, Pakaian, & Perkembangan

3 min read

tari seudati

Tari Seudati – Tari Seudati yaitu salah satu tarian tradisional yang berasal dari Aceh. Sama ibarat tari Saman, tarian ini dibawakan oleh sekelompok laki-laki. Gerakan tarian ini sangat khas dan enerjik, serta diiringi oleh lantunan syair dan nada.

Berbeda dengan saman yang dibawakan dengan duduk, tarian ini dibawakan sambil berdiri. Tari Seudati ini sudah populer di Aceh maupun nasional. Tarian Seudati ini melambangkan keteguhan, semangat, serta jiwa kepahlawanan seorang laki-laki Aceh.

Dahulu, tari seudati juga dipakai sebagai sarana penyebaran dakwah agama islam. Hal itu disebabkan lantaran dalam syair tari seudati disisipkan nilai-nilai anutan agama Islam.

Tentunya anda ingin mengetahui lebih jauh wacana tarian Seudati ini. Dibawah ini merupakan pemaparan lebih lanjut mengenai sejarah dan komponen dari tari seudati. Simaklah beberapa pemaparannya dibawah ini:

 

Sejarah Dari Tari Seudati

Tari Seudati yaitu salah satu kesenian tari tradisional yang tarian yang berkembang di tempat pesisir Aceh. Seni tari ini diyakini merupakan bentuk gres dari Tari Ratoh (Ratoih). Tari Ratoh sendiri sering  dipentaskan untuk mengawali permainan adu ayam.

Selain itu tari ini juga diadakan untuk  menyambut panen dan sewaktu datangnya bulan purnama. Saat  Islam tiba ke Aceh, terjadilah proses akulturasi sehingga jadilah Tarian ini yang kita kenal selama ini.

Tari ini mulanya berkembang di Desa Gigieng, Kecamatan Simpang Tiga, Pidie. Tarian ini diprakarsai oleh seseorang berjulukan Syeh Tam. Pada penyebarannya,  tarian ini pun berkembang juga di Desa Didoh, Kec. Mutiara, Pidie dibawah asuhan Syeh Ali Didoh. Setelah itu, tarian ini pun berkembang di Aceh Utara, Pidie, hingga ke seluruh wilayah Aceh.

 

 

Asal Kata Seudati

Ada banyak pendapat wacana asal penamaan dari tarian ini.

Ada yang beropini penamaan “seudati” asalnya dari kata Bahasa Arab  “syahadati” atau “syahadatain”.

Arti kata tersebut yaitu syahadat, atau legalisasi akan keesaan Allah dan legalisasi bahwa Muhammad merupakan Rasul utusan Allah.

Selain itu, ada juga pendapat  bahwa “seudati” berasal dari kata  “seurasi” (bahasa Aceh). Kata ini mempunyai makna  kompak dan harmonis.

Hal ini sejalan dengan gerakan tarian seudati yang memang kompak dan harmonis.

 

 

Fungsi Dari Tari Seudati

Tidak hanya hiburan, tari seudati mempunyai banyak fungsi lainnya. Berikut ini yaitu fungsi dari tari ini bagi masyarakat Aceh:

 

1. Pembangkit Semangat

Tarian Seudati ini termasuk dalam kategori “Tribal War Dance” atau tarian perang. Hal itu dikarenakan syair-syairnya dipenuhi oleh kata-kata yang sanggup membangkitkan semangat. Oleh lantaran itu,  tarian ini sempat dihentikan ditampilkan di zaman Pemerintahan Belanda.

Syair-syair dalam tarian ini sanggup mengakibatkan para cowok ingin memberontak kepada kekuasaan Belanda ketika itu. Tarian ini kesannya  diperbolehkan untuk ditampilkan kembali sehabis Indonesia merdeka.

 

2. Memberi Nilai-Nilai Kehidupan

Ada banyak kisah wacana macam problem hidup yang dibawakan dalam tarian yang kompak ini. Hal ini  dimasukkan biar masyarakat Aceh  mendapatkan petunjuk pemecahan perkara dalam kehidupan sehari-hari.

 

3. Sarana Dakwah Agama Islam

Didalam syair dan gerakan tari seudati juga disisipkan anutan agama Islam. Maka dari itu, Tari ini juga dimanfaatkan sebagai sarana penyebaran dan pendidikan agama islam. Selain masyarakat merasa terhibur dengan tarian ini, mereka juga mendapat anutan agama dan semangat perjuangan.

 

Komponen Dalam Tari Seudati

Ada banyak komponen yang melengkapi tarian ini. Komponen-komponen tersebut yaitu :

 

tari seudati
Source : kompas.com

 

1. Penari

Tari Seudati ada delapan pemain laki-laki yang biasa menjadi pemain utama.

Ada satu orang penari pemimpin yang disebut sebagai syeikh. Lalu ada satu orang yang menjadi pembantu syeikh.

Selain itu,  terdapat juga dua orang pembantu di sebelah kiri yang disebut apeet wie.

Selanjutnya,  disertai satu orang pembantu pada  bagian belakang (apeet bak), dan 3 orang pembantu biasa. Selain para pemain utama tersebut,  terdapat dua orang penyanyi.

Penyanyi tersebutlah yang bertugas sebagai pengiring tari yang disebut “aneuk syahi”.

 

2. Pengiring Tarian Berupa Musik Dari Tubuh

 

Pertunjukan Tari Seudati tidak pernah diiringi alat musik. Tarian ini hanya mengandalkan suara dari tepukan tangan ke dada dan pinggul, hentakkan kaki ke lantai, dan petikan jari.

Selain dari bunyi-bunyian tersebut, ada nyanyian dari penari yang mengiringi gerakan seudati. Gerakan demi gerakan tari ini dibawakan sesuai irama dan tempo lagu yang dinyanyikan.

Beberapa gerakan dalam tarian seudati sangat dinamis dan penuh semangat. Ada beberapa gerakan atau  kepingan yang kelihatan kaku. Hal itu ini sengaja dilakukan untuk menawarkan keperkasaan dan kegagahan para penari Seudati.

Selanjutnya dilanjutkan dengan tepukan tangan ke dada dan perut untuk mengesankan kesombongan dan juga perilaku ksatria laki-laki aceh.

 

3. Busana Penari

Busana para penari Seudati terdiri dari celana panjang serta kaos oblong panjang yang ketat dengan warna putih.

Selain itu terdapat kain songket yang dililitkan sebatas paha dan pinggang penari.

Tak lupa, rencong yang disematkan di pinggang, ikat kepala berwarna merah (tangkulok), serta sapu tangan berwarna.

 

 

Perkembangan Tari Seudati Saat ini

 

Sampai sekarang, Tari Seudati terus berkembang dan dilestarikan. Terdapat banyak sekali kreasi dan variasi dalam gerakannya yang sering ditampilkan disetiap pertunjukkannya sehingga lebih menarik dan baru.  Meskipun begitu, tarian yang dikreasikan tidak menghilangkan keaslian dan ciri khasnya.

Tarian seudati ini sering ditampilkan di program adat, program perayaan dan program kebudayaan lainnya. Selain ditampilkan sebagai tarian pertunjukan, tarian ini juga sering diperlombakan antar tim. Hal inilah yang menciptakan masyarakat semakin antusias untuk menikmati Tarian Seudati ini.

Itulah pemaparan wacana tari seudati. Sayangnya tarian ini belum seberuntung tari saman yang sudah diakui UNESCO sebagai Warisan Budaya. Oleh lantaran itu, seharusnya generasi muda memperjuangkan tari Seudati ini biar sanggup terjaga. Sudah seharusnya warisan budaya yang tak ternilai ini dijaga, dipelihara, serta dikembangkan untuk kemajuan bangsa.

Avatar
Kei Lho Hanya seorang penulis yang menjadikan susu hangat menjadi sebuah cerita yang bermanfaat

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Lewat ke baris perkakas